Creating Content and Sharing Insight

Sedikit review tahun-tahun berjalan sejak kembali dari sekolah di Australia,

tahun 2012: tahun administration (merapikan arsip, mengumpulkan data, menyusun database)

tahun 2013: tahun traveling (mengunjungi hubby, keluarga dan teman di luar negeri)

tahun 2014: tahun internationalization and networking (mengerjakan project internasionalisasi dan bertemu banyak teman maupun orang-orang penting dari empat benua)

tahun 2015: tahun creating content and sharing insight (mengumpulkan ide dan berbagi pandangan di mana-mana)


tahun 2016: barangkali akan jadi tahun yang… (tergantung aktivitas tahun ini, barangkali temanya ‘community service’)


Awal tahun baru ini saya belajar terminologi baru ‘creating content dan sharing insight’, meskipun tahun 2015 lalu sudah dilakukan sambil berlari di berbagai tempat. Pada tahun 2015, kesempatan untuk berbagi ilmu tidak hanya di bidang penelitian melalui konferensi, tetapi juga bidang green building materials, penulisan ilmiah, kreativitas mahasiswa, motivasi, kepemimpinan di era MEA, gender equality, studi S3 di Australia, dan kuliah umum mengenai material konstruksi di tanah gambut sewaktu mengunjungi University of Yamaguchi, Jepang.

Term tersebut, creating content and sharing insight (mengumpulkan ide dan berbagi pandangan), seperti yang ditulis oleh Dorie Clark di hbr.org dalam post ‘How Can I Ensure I’m More Valuable at the End of the Year than I was at the Beginning’, menjadi bagian dari Professional Development Activity (Kegiatan Pengembangan Profesional) dalam hidup dan karir seseorang. Maksudnya, ‘creating content’ adalah menuliskan ide/ilmu untuk mengkristalisasi pengetahuan dalam bentuk yang lebih mudah dipahami dan mengikat orang lain, sedangkan ‘sharing insight’ berarti membentuk personal brand (imej pribadi) dengan cara berbagi ilmu dengan publik/komunitas. Keuntungan yang diperoleh adalah pemahaman mendalam tentang bidang keahlian dan mendapatkan pengakuan publik mengenai keahlian kita. 

Agar bisa ‘creating content dan sharing insight’ dengan baik, tentulah kita perlu memperluas ilmu dan wawasan mengenai sebuah topik. Pengalaman presentasi dan belajar internasionalisasi selama ini di KUI, di Jerman, presentasi materi untuk mahasiswa di kampus maupun presentasi penelitian di konferensi internasional telah membantu dengan cepat untuk menyusun content yang tepat untuk setiap event. Selain itu, berbagi pandangan berdasarkan pengalaman pribadi biasanya lebih enak diikuti dan membekas di dalam hati audiens.


Untuk memulai tahun 2016, Bismillahirrahmanirrahim, telah ada undangan berbagi ilmu mengenai beasiswa luar negeri dan sekolah di luar negeri oleh komunitas anak muda lokal yang mencari beasiswa. Mudah-mudahan tema tahun ini, community service bisa dijalankan dengan baik. Semangat.


Pekanbaru, 

beautiful 2016 is waiting

Manajemen Pekerjaan Dosen

Setiap dosen mengetahui bahwa mereka punya tiga pekerjaan penting di universitas:

a) Pengajaran: mengajar, memeriksa, membimbing tugas/praktikum, membimbing tugas akhir dan kerja praktek, membimbing karya ilmiah mahasiswa,

b) Penelitian: meneliti, mempublikasikan hasil penelitian, menulis buku, menulis artikel, menulis proposal, mengelola penelitian,

c) Pengabdian masyarakat: mengembangkan penelitian menjadi pengabdian, memberikan penyuluhan/informasi, membantu instansi,

dan ada pekerjaan lain yang disebut:

d) Penunjang: menambah kompetensi, menjadi pengurus/panitia, mengerjakan pekerjaan administrasi, etc.

Tetapi, pada prakteknya banyak dosen tidak membuat perencanaan tahunan untuk mengerjakan pekerjaan di atas. Kadang-kadang hanya mengikuti saja apa yang dilakukan rekan sejawat atau apa yang diinginkan atasan pada waktu tertentu. Padahal dosen memiliki keleluasaan untuk memperkirakan penggunaan waktu yang efisien dan sumber daya yang dimiliki sehingga efektif mencapai tujuan.

Oleh karena itu, setiap awal tahun, dosen diharuskan memiliki rencana konkrit untuk output yang ingin dicapai, misalnya, 2 artikel diterbitkan di seminar/jurnal nasional, 2 artikel di seminar/jurnal internasional, 2 kegiatan pengabdian masyarakat dan 2 modul kuliah pada minggu/bulan tertentu. Di luar waktu-waktu tersebut, dosen bisa fokus untuk melakukan tugas-tugas penunjang dan mengembangkan diri.

Pekanbaru,

Dosen Punya Banyak Minat

Dosen punyaOLYMPUS DIGITAL CAMERA banyak minat kini makin terdengar wajar saja.

Apalagi dalam beberapa tahun belakangan ini kita bisa mengakses arus informasi dari internet untuk mendapatkan data, ide, inspirasi, dan keahlian baru sehingga membuka peluang mengerjakan berbagai hal yang belum pernah dipikirkan sebelumnya. Misalnya, beberapa dosen dari berbagai jurusan menggunakan keahlian masing-masing untuk bekerja sama secara multi disiplin mengerjakan suatu topik penelitian mengenai lingkungan. Atau, seorang dosen bisa mengerjakan beberapa topik secara simultan karena memiliki beberapa minat dan keahlian yang tidak dimiliki orang lain.

Banyak dosen yang punya banyak minat telah mempraktekkan hal tersebut dan sukses di berbagai bidang. Hal ini menjadi suatu keahlian bagi dosen tersebut untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan membantu perbaikan kehidupan masyarakat. Sedangkan bagi institusi, partisipasi dosen di berbagai bidang dapat membantu atmosfir akademik menjadi lebih dinamis sehingga gairah meneliti dan pengabdian masyarakat lebih tinggi. Berbagai ide-ide baru dapat dibawa ke kampus dan diselesaikan bersama-sama dengan sesama rekan dosen tanpa membedakan latar belakang kompetensi. Demikianlah cara sebuah institusi berkembang menghadapi tantangan dengan menjadi salah satu problem solver permasalahan yang dihadapi masyarakat di sekitarnya.

Kembali ke dosen punya banyak minat tadi, sudah tentu tidak mengapa asal tidak melalaikan kewajiban dan menghabiskan waktu untuk mengerjakan tanggung jawab utama selama mereka mampu. Jika berkarir sebagai dosen adalah sebuah rahmat dari Allah SWT, maka semua minat dan keahlian tersebut ditujukan untuk mengerjakan hal-hal baik bagi diri dan lingkungan sekitarnya.

Pekanbaru,

Kolaborasi Internasional FT UR dengan Universitas di Jepang

Kolaborasi internasional di Fakultas Teknik pada tahun 2015 merupakan tindak lanjut dari penandatanganan MOU dengan Faculty of Engineering University of Miyazaki di tahun sebelumnya. Pada bulan Oktober 2015, tim yang terdiri dari Dekan FT UR, Koordinator Prodi Magister Teknik Sipil UR, dan dosen MTS UR melaksanakan perjalanan ke tiga universitas di Jepang, yakni University of Miyazaki, Saga University dan Yamaguchi University.

Pertemuan dengan pihak Fakultas Teknik University of Miyazaki dihadiri oleh Dekan, pimpinan unit, profesor, dosen, dan Prof Murakami sebagai wakil ketua Kantor Urusan Internasional FT UOM. Pada saat itu dipresentasikan rencana pembukaan Double Degree Program (DDP) antara MTS FT UR dan Master Program in Civil Engineering OUM. Kedua belah pihak sepakat untuk melaksanakan kegiatan tersebut pada tahun 2017. Kami juga mendapat kesempatan untuk berbincang dengan Vice Rector I UOM tentang berbagai peluang kolaborasi yang dapat dilaksanakan dengan Universitas Riau. Selain bertemu pimpinan universitas, kami mengunjungi project coastal di Miyazaki dan sekitarnya.

Kunjungan berikutnya ke Saga University untuk menemui Prof Arai di Faculty of Engineering. Setelah melakukan presentasi mengenai UR dan hasil riset terkini mengenai mitigasi bencana asap, Dr Ari dan Dr Sigit berpeluang melakukan kerja sama riset dengan Prof Arai. Sebelum kunjungan berakhir, kami sempat berdiskusi dengan Dekan Faculty of Engineering Saga University mengenai kemungkinan pelaksanaan MOU dengan Saga University pada tahun 2017. Beberapa tempat menarik di kota Saga sempat dikunjungi seperti Saga Castle dan Municipal Building untuk melihat pemandangan Saga dari tempat paling tinggi di kota itu.

Perjalanan ke Yamaguchi University dipandu oleh Sensei Yamamoto, kawan lama kami yang sering berkunjung ke Bengkalis, Riau. Setelah bertemu dengan Dekan Fakultas Teknik YM untuk diskusi mengenai potensi kolaborasi riset dan kerjasama, kami diantar untuk melihat-lihat kampus, mendengarkan presentasi mengenai riset sensei Yamamoto di Bengkalis dan makan siang di kafe kampus. Siang itu setelah shalat Dzuhur,  Prof Adrianto (Dekan FT UR), Dr Ari dan saya akan memberikan kuliah umum di depan mahasiswa dan dosen Faculty of Engineering YM. Terus terang inilah pengalaman pertama saya berbicara mengenai riset material untuk lahan gambut di luar negeri. Saya berharap lebih banyak kesempatan serupa untuk belajar memaparkan riset dan menarik minat kolaborasi mengenai bidang ini.

Setelah mengunjungi ketiga universitas tersebut, ada beberapa hal yang bisa dipelajari a) persiapan matang merupakan kunci efektivitas kerja sama, b) data lengkap dan akurat mengenai universitas perlu diperbarui secara teratur, c) lain padang lain belalang, kita harus bisa tepat waktu mengikuti jadwal mereka, d) eksekusi kegiatan dilaksanakan sesegera mungkin untuk tetap menarik minat kolaborator, e) agar kolaborasi internasional berhasil dengan baik, maka perlu melibatkan lebih banyak stakeholder dan unit kerja di universitas sendiri.

Pekanbaru,

Alumni Sharing Session to Australia Awards PhD Awardees

Jakarta, 22 Oktober 2015

Undangan untuk berbagi pengalaman saat PhD mendadak datang dari PostAwards Officer, mbak Rosi dan mas Danny di Australia Awards Indonesia. Saya tetap berpikir positif saja meski sedikit nervous karena pengalaman studi PhD kala itu banyak drama daripada lancar dan senangnya. Didorong keinginan kuat untuk berbagi, saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, Bismillah, saya datang ke kampus IALF di Plaza Kuningan, Menara Selatan, Jakarta.

Di kantor sudah menunggu  Prof Brian, bu Catharina dan pak Agus. Pak Agus, teman lama di Curtin, juga akan berbagi kisah inspiratif beliau selama PhD. Saya tidak heran mendengar succes story beliau, karena memang sukses sekali dan berhasil menjadi salah satu seleb Australia Awards Indonesia saat ini.

Untuk sharing session ini kami diwanti-wanti agar menceritakan masalah selama PhD dan apa yang telah kami lakukan untuk mengatasinya. Pak Agus berbagi tentang pengalaman jatuh-bangun selama studi sampai akhirnya beliau mendapatkan award pertama untuk risetnya. Kesuksesan terus berlanjut hingga beliau mendapat Habibie Award untuk riset beliau bagi masyarakat di Gunung Kidul yang kesulitan mendapatkan air bersih. Beliau menunjukkan sikap pantang menyerah meski harus berkutat dengan hal-hal tak disangka dan harus bekerja mandiri untuk catch up dengan waktu yang diberikan donor beasiswa.

Saya hanya berbagi informasi mengenai masalah akademik dan adaptasi budaya. Beberapa masalah akademik yang sering dihadapi mahasiswa Indonesia adalah kemampuan riset dan hubungan mahasiswa-pembimbing. Kemampuan riset seperti paraphrasing/summarizing, writing, dan academic presentation mestinya sudah dimiliki, tetapi baru dipelajari di tahun-tahun awal studi. Akibatnya banyak mahasiswa yang tersangkut kasus plagiarism, terlambat menulis atau mempublikasikan risetnya. Sedangkan masalah dengan pembimbing, biasanya terkait komunikasi, personality clash, pembimbing tidak berpengalaman, terlalu sibuk, atau pembimbing tidak punya waktu untuk kita.

Masalah budaya ternyata cukup berat bagi beberapa orang yang belum pernah tinggal di budaya berbeda. Mereka biasanya mengalami gegar budaya setelah melihat perbedaan-perbedaan yang kurang mengena di budaya lama. Tetapi kemampuan adaptasi budaya yang cepat, seperti langsung berintegrasi dengan budaya lokal dan bisa menginterpretasikan budaya lain dengan mudah, akan membantu proses tersebut tanpa perlu terlalu lama menderita.

Prof Brian setuju saya menyinggung tentang isu Reversed Culture Shock, sebab masa untuk beradaptasi kembali sering terasa lebih menyulitkan daripada menerima budaya baru. Ada beberapa tips untuk smooth adjustment yang saya paparkan, diantaranya berusaha memahami bahwa tidak hanya diri sendiri yang berubah, tetapi orang lain juga berubah, serta mau bersabar karena semua orang perlu waktu untuk merasa nyaman satu sama lain. Untuk tips lengkapnya, bisa dilihat di post berikut.

Saya merasa senang bisa berbagi tips dengan mereka. Semoga suatu hari bisa berbagi lagi.

Jakarta,

 

Presentasi ‘Green Building Materials’ di Seminar LPJK dan IAI Riau

23 April 2015

Konsep ‘green’ pada bangunan diartikan memenuhi kriteria efisiensi sumber daya, efisiensi energi, konservasi air, kualitas udara dalam ruangan dan terjangkau. Berdasarkan definisi dari Green Building Council Indonesia (2011), ‘green building’ merupakan bangunan yang menggunakan energi, air dan sumber daya lain secara efisien, melindungi kesehatan dan meningkatkan produktivitas penghuni, serta mengurangi limbah, polusi serta degradasi lingkungan.  Untuk bangunan-bangunan masa kini, konsep ‘green’ menjadi salah satu indikator keberhasilan dalam mendukung pembangunan yang ramah lingkungan dan menggunakan sumber daya secara efisien pada industri konstruksi.

Suatu bangunan disebut ‘green’, bukan berarti memiliki cat luar hijau, tetapi memenuhi kriteria rating dari beberapa institusi. Sebagai contoh, Green Building Council Indonesia menggunakan ‘Greenship Rating’ untuk mengevaluasi bangunan yang mengusung konsep ‘green’. Berbagai kriteria dijabarkan dalam Greenship Rating Criteria meliputi tepat guna lahan, efisiensi dan konservasi energi, konservasi air, sumber dan siklus material, kesehatan dan kenyamanan dalam ruangan dan manajemen lingkungan bangunan.

Pada presentasi mengenai ‘Green Building Materials’, saya menjelaskan tentang kriteria ‘Sumber dan Siklus Material’ (Material Resources and Cycle- MCR). Pada kriteria ini terdapat berbagai item yang dinilai seperti penggunaan material bekas bangunan lama untuk mengurangi limbah, material hasil proses daur ulang, material dari sumber daya terbarukan dengan masa panen <10 tahun, menggunakan kayu bersertifikat, efisien dalam penggunaan material dan minim sampah, serta dapat diperoleh secara lokal. Contoh2 material yang dijelaskan adalah brick masonry, lightweight steel, recycle aluminium, glue laminated timber dan beton menggunakan limbah industri sepereti geopolimer.

Studi kasus yang dipaparkan ada dua bangunan, yakni a) Green Star Five Star The Curtin Engineering Paviliun, Perth, Australia bernilai AUD 13 juta. Bangunan ini menggunakan efficient lighting system, solar panel, rooftop water tanks, exposed timber beams dan menghemat 32% air/tahun, serta 42% energi/tahun dari bangunan biasa. Studi kasus kedua b) yakni Masdar City, Abu Dhabi, UEA, yang menggunakan bangunan tradisional, 90% recycle aluminium, low carbon concrete, sustainably timber source. Gedung Siemens di Masdar City mendapat rating LEED Platinum dan dapat menghemat 50% energi dari bangunan biasa.

Pekanbaru,

Presentasi Project DIES-UNILEAD DAAD

Maret 2015

Setelah bekerja keras menyelesaikan project untuk workshop UNILEAD, saya dan teman-teman diundang kembali ke Universitat Oldenburg, Jerman, untuk mempresentasikan project tersebut pada Maret 2015.

Pada saat itu saya masih bekerja sebagai Deputi Manager bidang Eksternal di Kantor Urusan Internasional, Universitas Riau (2012-2015). Project yang saya kerjakan, “Development of a Strategic Planning Document for Internationalisation of Universitas Riau 2015-2019” diselesaikan dalam waktu 4 bulan (Oktober-Januari) dengan melibatkan lebih dari 50 stakeholders yang terdiri dari pimpinan eksekutif, kepala unit, ketua program studi/jurusan, guru besar, dan dosen. Strategic Planning Document (Renstra) tersebut dikembangkan dengan mengacu pada Visi dan Misi Universitas, Statuta dan Peraturan Menteri mengenai internasionalisasi universitas. Untuk mengerjakan dokumen tersebut, saya banyak dibantu oleh para pimpinan dan guru besar di Univ Riau dengan memperhatikan trend perkembangan internasionalisasi di universitas besar dan menengah di Indonesia. Selain itu dikembangkan juga dokumen “Student Exchange and Summer Program” bagi prodi/jurusan yang ingin membuka program tersebut.

Pelaksanaan presentasi dibagi menjadi 2 grup. Prof Frank Fischer, dosen Project Management, menyampaikan aturan untuk presentasi, yakni tidak boleh membuka laptop dan handphone, dan kami diminta untuk memberikan apresiasi, respek, berkonsentrasi dan feedback bagi presenter.

Project yang dilaksanakan oleh teman-teman peserta UNILEAD lain disesuaikan dengan bidang kerja dan tuntutan perkembangan di universitas masing-masing. Beberapa orang mengambil isu terkini di perguruan tinggi dunia seperti internasionalisasi, jaminan mutu dan e-learning. Peserta lain memilih program-program pengembangan untuk infrastruktur, SDM, gender, dan special program untuk Engineer.

Saya mendapat kesempatan pertama untuk presentasi di Grup 2. Hal-hal yang disampaikan adalah teknis pelaksanaan project, kendala yang dihadapi dan lesson learned dari project tersebut.

Tim kami mendapat aplaus meriah setelah memperlihatkan dua produk project ini yakni dokumen Renstra dan panduan pelaksanaan Student Exchange Summer Program. Disamping itu saya mendapat tawaran menulis paper secara kolaborasi dengan staf di kampus Oldenburg mengenai perkembangan internasionalisasi Universitas Riau.

Aktivitas ini menjadi salah satu milestone dalam pengembangan kapasitas diri dalam mengerjakan project dengan skala tingkat universitas yang melibatkan banyak unsur stakeholder pada waktu relatif singkat.

Pekanbaru,

Menjadi Anggota The Australia Awards Alumni Reference Group-Indonesia 2014-2016

The Australia Awards Alumni Reference Group-Indonesia adalah perwakilan alumni penerima beasiswa pemerintah Australia yang dipilih dari ribuan profesional di berbagai disiplin ilmu dan bidang pekerjaan. Grup eksekutif ini dibentuk untuk memfasilitasi dan memaksimalkan kontribusi alumni penerima beasiswa pemerintah Australia dalam pembangunan di Indonesia di beberapa bidang seperti Education, Health, Poverty Reduction, Infrastructure, Food Security, Environment and Natural Disaster, Energy and Innovation Technology, and Investment and Business Climate. Kesembilan tim tersebut diketuai oleh Prof Frans Umbu Datta, former Rektor Universitas Nusa Cendana, Kupang.

DSC_2008

Saya terdaftar sebagai anggota tim Infrastruktur untuk ARG 2014-2016, dan telah mengikuti meeting ARG pertama pada tanggal 13 Desember 2014 di Jakarta. Pada pertemuan itu kami mendapat briefing dari tim Knowledge Sector Initiative (KSI) mengenai makna penting knowledge management dan networking untuk membantu menyelesaikan permasalahan pemerintah Indonesia dalam membuat kebijakan publik. Setelah sesi dari tim KSI, tiap tim ARG berdiskusi untuk merumuskan permasalahan yang tengah dihadapi pemerintah Indonesia di bidang yang kami pilih, kemudian membuat road map aktivitas dan action plan untuk jangka waktu 2 tahun sesuai bidang keahlian. Grup infrastuktur memiliki plan untuk mengadakan seminar/workshop, PDA (Professional Development Activity) dan publikasi isu seputar infrastruktur. Berikut adalah contoh plan yang dibuat  grup Infrastructure.

1-2016-06-06

Pembicara kunci kegiatan Meeting ARG 2014-2016 adalah Prof Mari Elka Pangestu, former Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2011-2014). Isu penting yang beliau bicarakan selain pengalaman sekolah di Australia, adalah mengenai perkembangan ekonomi kreatif Indonesia yang didasarkan pada knowledge based economy untuk produktivitas tanpa bergantung pada sumber daya alam. Bu Mari juga menambahkan beberapa contoh menarik produk-produk khas Indonesia yang bisa mendunia seperti games, makanan dan budaya.  Sebenarnya berdasarkan ranking dari The Economist Pocket World Figure 2015, posisi Indonesia dalam bidang ekonomi kreatif adalah no 5 di dunia. Saya tidak heran karena masyarakat Indonesia sejak dulu memang sangat kreatif dan bisa berkembang sendiri menjadi lebih baik jika diberi kail yang tepat. Disamping itu bu Mari juga mengajak untuk mengubah mind set dan berusaha lebih kompetitif agar dapat meningkatkan daya saing bangsa.

DSC_2077

Isi kuliah inspiring Prof Mari malam itu sangat menambah wawasan dan motivasi semua orang. Bagi saya sebagai akademisi, hal yang bisa dilakukan adalah untuk banyak terlibat membantu knowledge sharing dan capacity building di kalangan mahasiswa dan dosen-dosen junior lain, agar menghasilkan pekerjaan berkualitas, memiliki daya saing tinggi, selalu berpikiran maju dan haus ilmu (studi lanjut), dan serta sering berpartisipasi dalam kegiatan positif untuk mengubah mind-set.

Meski jalan masih panjang, keikutsertaan dalam grup ini merupakan langkah lain dalam hidup saya untuk membantu kemajuan bangsa Indonesia.

Pekanbaru,

Photos courtesy of http://www.australiaawardsindo.or.id/en/arg-news/377-arg-annual-meeting-2014.html

Presentasi ‘Living and Studying in Australia’ dalam Seminar Cross Culture KUI UR

Salah satu faktor kesuksesan dalam studi di luar negeri adalah kemampuan adaptasi seseorang dengan budaya asing. Untuk mampu beradaptasi dengan cepat, kita harus mengetahui budaya negeri tempat studi, selalu berpikir positif tentang berbagai hal baru, dan belajar menerima secara adil.

Pada 10 Juni 2014, KUI UR mengadakan seminar Cross Culture dengan target audiens mahasiswa dan staf pengajar. Budaya yang dipaparkan berasal dari negeri Jepang, Inggris, dan Australia. Pembicara untuk seminar ini adalah Megan Elizabeth (UK) menerangkan tentang etika British dalam bergaul, Dr Sigit dan Dr Roza menjelaskan tentang studi dan budaya Jepang, serta saya yang mengenalkan tentang ‘Living and Studying in Australia’.

Tahap mempelajari informasi awal mengenai Australia dan budayanya pada saat itu saya lakukan pada minggu-minggu awal menjejakkan kaki di benua tersebut. Saya ingat di minggu pertama, saya melahap semua brosur, informasi, dan handbook yang diberikan dalam Welcome Package sehingga bisa lebih awal memahami berbagai hal mengenai tempat hidup baru selama 4 tahun berikutnya. Saya belajar mengenai berbagai keunikan orang Australia seperti suka menggunakan bahasa slank, multi kultural, egalitarian, menyukai gaya hidup sehat, outgoing, bangga dengan produk dalam negeri sendiri, cukup informal, menyukai alam dan laut, serta suka menyetir dengan kecepatan tinggi. Beberapa hal lain seperti part time job, time management, strategi studi, learning support, being a moslem in Australia, driving dan leisure activities juga menjadi beberapa topik menarik di kalangan audiens.

Ada beberapa hal yang harus kita navigasi dengan cepat pada awal-awal masa tinggal seperti itu, seperti sistem pemerintahan (agar tidak blank kalau orang menyebut Kevin Rudd, misalnya), jumlah negara bagian dan karakteristiknya (supaya tidak ketinggalan kalau orang berbicara mengenai state tertentu), tempat dan tipe akomodasi (karena masih dalam tahap mencari tempat permanen), tempat berbelanja groceries dan makanan halal (terutama di daerah-daerah tertentu), peta kampus (supaya tidak tersesat di kampus yang lumayan besar), peta dan jadwal transportasi publik ke kampus pulang-pergi atau ke tempat lain (agar efisien dan tidak ketinggalan bis melulus) serta tempat perkumpulan mahasiswa internasional (lebih cepat dapat teman, lebih baik).

Saya anjurkan teman-teman tidak malu-malu bergabung dengan teman-teman internasional, belajar dengan cepat menjadi bagian mereka sekaligus menemukan kesamaan-kesamaan (common ground) serta melakukan aktivitas bersama untuk memperlancar kemampuan komunikasi dan sinkronisasi pemikiran agar menjadi seorang mahasiswa yang mudah beradaptasi.

Pekanbaru,

 

Tips dan Trick Belajar Bahasa Inggris

Beberapa tips dan trick berikut telah saya gunakan untuk menguasai bahasa Inggris, yakni bahasa penting dalam menuntut ilmu dan berkomunikasi dengan orang asing:

a) Lakukan secara rutin. Tidak perlu mengalokasikan waktu tertentu khusus untuk belajar selama beberapa minggu, tetapi sedikit-sedikit setiap hari dan rutin terlaksana ternyata lebih besar dampaknya. Misalnya rutin membaca satu artikel setiap hari dan mendengarkan film berbahasa Inggris di Youtube lebih mudah dilakukan ketimbang belajar khusus setiap hari selama 3 bulan. Jika tiap hari kita membaca satu artikel dan menonton satu film, maka dalam setahun ada 365 artikel dan 365 film dengan ribuan kosa kata baru dan ekspresi baru yang kita dapatkan. Otak lebih mudah menerima dan mengingat perbedaan-perbedaan tersebut.

b) Pelajari budaya asli. Belajar bahasa tetapi tidak mau memahami budaya orang yang menggunakannya (orang Inggris/Australia/USA) ternyata tidak membantu kita belajar bahasa. Masalah utama terletak di ‘sense’ orang asing tersebut dalam situasi tertentu. Kadang-kadang mereka menggunakan kata-kata berbeda untuk mengekspresikan sesuatu pada saat tertentu. Misalnya mereka menggunakan kata-kata ‘gentleman’ dalam situasi formal (akademis, society tertentu), dan ‘bloke’ dalam situasi informal (majalah teenager, percakapan sehari-hari).

c) Perbanyak latihan. Untuk bisa menjawab pertanyaan dalam tes TOEFL, IELTS, etc, maka tidak ada jalan kecuali berlatih memahami tipe-tipe soal. Baru-baru ini saya menggunakan trick sederhana dari sebuah buku latihan IELTS, yakni ‘lakukan secara rutin’ dan ‘gunakan satu handbook’ saja. Surprise, surprise! Penggunaan satu macam handbook untuk belajar berarti kita akan mengulang-ulang pertanyaan yang sama dan kalau dilakukan tanpa memahami tujuannya, maka akan sangat membosankan. Tetapi disitulah letak kunci keberhasilannya. Menggunakan soal yang sama berulang-ulang, akan membantu kita memahami tipe-tipe soal sampai bisa mengenali dan mengingatnya. Kemudian setelah menguasai tipe soal tersebut, kita baru dianjurkan mempelajari buku lain. Tetapi biasanya cukup satu buku, dan cukup diulang-ulang sampai paham.

d) Selalu ambil kesempatan praktek. Biasanya hal ini terjadi saat ada kesempatan mendengarkan ‘native speaker’ berbicara atau praktek ‘speaking/presentation’ di depan para native speaker. Ada perbedaan cara berpikir antara orang asing dengan orang Indonesia, pada khususnya, sehingga kita harus bekerja keras menghantarkan presentasi atau percakapan yang mengalir dan bisa dimengerti oleh semua orang. Terus ambil kesempatan untuk praktek, lalu perhatikan feedback berupa ‘gesture’ atau ‘respond’ dari para native speaker.

e) Tidak boleh menyerah dan terus asah kemampuan. Cara terbaik adalah mengetahui skor kemampuan bahasa Inggris melalui TOEFL atau IELTS. Lakukan tes secara berkala untuk mendapatkan skor tersebut di lembaga bahasa bereputasi. Perbaiki nilai terendah dan lakukan tes lagi untuk mendapatkan feedback atas usaha yang telah kita lakukan. Lupakan ‘comfort zone’ dan pantang menyerah saat mengupayakan skor terbaik. Skor ini tidak hanya berguna sebelum mendapatkan sekolah saja, tetapi juga saat bekerja, misalnya untuk pendaftaran beasiswa kursus atau postdoc.

Pekanbaru,