Catatan kecil untuk persiapan Mawapres 2015 bagi mahasiswa Teknik Sipil UR

Dear all,
ibu ingin mendorong anda, mahasiswa Teknik Sipil untuk mempersiapkan diri menjadi salah satu Mahasiswa Berprestasi UR 2015.

Dua minggu lalu saya menjadi bagian dari Dewan Juri Mawapres 2014 dan tim telah memilih Sdr Azhari dari HI FISIP UR sebagai Mahasiswa Berprestasi I untuk dikirim ke tingkat nasional. Sdr Azhari memenuhi kriteria citra Mhs Berprestasi UR dengan prestasi seperti juara lomba debat bahasa Inggris dan best paper dalam seminar HI, aktif berbahasa Inggris, mampu menulis karya tulis dengan topik aktual dan mampu menerjemahkan pertanyaan juri yang bersifat abstrak menjadi langkah konkrit. Sdr Azhari tidak menang dengan mudah, karena kompetitornya, Sdri Novi dari FE juga memiliki segudang prestasi yang tidak kalah hebat.

Saya ingin memberikan beberapa masukan bagi mahasiswa TS yang berminat:
a) Persiapan untuk syarat umum: mahasiswa max. semester VIII, IPK minimal 3.00, membuat karya tulis dengan topik tertentu (sesuai panduan) dan memiliki prestasi/kemampuan yang diunggulkan.

b) Prestasi/kemampuan unggulan dapat berupa partisipasi dalam kegiatan seminar sebagai pembicara/peserta, ikut serta sebagai peserta lomba-lomba seperti desain konstruksi, rancang mix design beton, lomba karya tulis ilmiah tingkal lokal/provinsi/nasional/regional/internasional, etc. Sebaiknya seminar dan lomba-lomba yang diikuti mayoritas bidangnya linear dengan bidang ilmu Teknik Sipil untuk mendapatkan nilai tambah.

c) Aktif berbahasa Inggris baik lisan maupun tulisan. Saya mengetahui ada beberapa mahasiswa TS yang mampu presentasi dengan sangat baik dalam bahasa Inggris, tetapi harus diasah kemampuannya dalam menulis tulisan ilmiah. Oleh karena itu, jika berminat, ikutlah workshop/kursus penulisan karya tulis yang rencananya akan diadakan oleh Jurusan. Jika belum fasih berbahasa Inggris, maka cobalah kursus bahasa Inggris di LIA, EF atau Easy Speak.

d) Untuk mengikuti seminar dan lomba, coba masukkan proposal dahulu ke staf PR III.

e) Kegiatan internasional yang dapat diikuti seperti summer camp, summer course, KKN Internasional, dengan biaya pendaftaran cukup terjangkau sekitar Rp 1-2 juta, dapat ditanyakan kepada Kantor Urusan Internasional UR dan sebagian dana mungkin bisa diminta kepada Fakultas dan PR III.

f) Saringan awal adalah di tingkat Jurusan dan Fakultas. Mayoritas juri pada tahap awal lebih memperhatikan pada penulisan karya tulis (keaktualan topik yang diangkat, teknik penulisan dan manfaat penulisan) serta kefasihan berbicara dalam bahasa Inggris.

Masih ada satu tahun lagi. Bagi yang berminat bisa bersiap-siap dari tahun ini.

Panduan lengkap dapat dilihat pada:
http://www.dikti.go.id/id/2014/03/05/panduan-pemilihan-mahasiswa-berprestasi-mawapres-2014/

Demikianlah sumbang saran saya untuk Mahasiswa TS, dari ajang pemilihan Mawapres 2014. Semoga tahun depan ada mahasiswa TS yang mulai berpartisipasi dalam kompetisi ini.

Pekanbaru,

Free Databases

Keterbatasan akses untuk mendapatkan artikel-artikel ilmiah dalam proses meneliti sebenarnya dapat disiasati dengan mencari artikel gratis di internet.

Situs ‘Google Scholar’ telah menjadi sarana paling populer mendapatkan artikel, buku maupun tesis gratis dari berbagai link. Cukup klik simbol [PDF] yang terdapat di sebelah judul artikel, maka artikel tersebut dapat diunduh secara gratis. Selain Google Scholar, beberapa situs database ‘open access’ dan e-books dapat menjadi sumber artikel dan buku tanpa bayar.

Berikut link database untuk jurnal dan buku gratis (klik pada judul):

Databases

1) Academic Journals

2) DOAJ

3) ACS Publications

4) OAJSE

5) Springer (Open) Journal

6) JSTOR

7) Sciencedirect Open Access

8) Trove

9) Portal Garuda DIKTI

10) e-jurnal LIPI

11) SciTech Connect

 

E-Journal Universitas di Indonesia

e-Journal Universitas e-Journal UNNES (http://journal.unnes.ac.id/index.php)

e-Journal IPB ( http://journal.ipb.ac.id/)

e-Journal ITB (http://itb.ac.id/research/journal)

e-Journal UI (http://journal.ui.ac.id)

e-Journal UK Petra (http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/)

e-Journal UM (http://journal.um.ac.id/)

e-Journal UMuh Malang (http://ejournal.umm.ac.id/)

e-journal Unair (http://journal.unair.ac.id/)

e-Journal Undip (http://ejournal.undip.ac.id/)

e-Journal UNNES (http://journal.unnes.ac.id/)

e-Journal UNY (http://journal.uny.ac.id/)

e-Journal USU (http://ejournal.usu.ac.id/)

e-Jurnal IKIP PGRI Semarang (http://e-jurnal.ikippgrismg.ac.id/)

e-Jurnal UAD (http://www.journal.uad.ac.id/)

e-Jurnal Udayana (http://ejournal.unud.ac.id/new/home.html)

e-Jurnal UII (http://journal.uii.ac.id/)

e-Jurnal UKSW (http://ejournal.uksw.edu/)

e-Jurnal UMP (http://jurnal.ump.ac.id/)

e-Jurnal UNM (http://ojs.unm.ac.id/)

e-Jurnal Unsoed (http://jurnalonline.unsoed.ac.id/)

e-Jurnal Untad (http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/)

e-books

1) BOOKBOON

2) NAP

3) DOAB

4) Bookfi

5) Bookza

6) Free e-books websites

(sumber: http://www.kopertis12.or.id/2010/08/02/kumpulan-info-penting-untuk-dosen.html dan lain-lain)

Pekanbaru,

Elsevier Journal Match Maker App

Penerbit Elsevier menerbitkan sekitar 250.000 artikel ilmiah per tahun yang dimuat dalam 2869 jurnal dengan memperkerjakan 7000 editor dan ratusan ribu peer review. Melalui ribuan jurnal tersebut, seringkali ditemukan penulis salah memilih jurnal yang tepat untuk manuskrip mereka. Sebagai contoh, untuk bidang saya sendiri, terdapat sekitar sepuluh jurnal yang relevan dengan bidang saya. Manuskrip kerap ditolak oleh Ketua Dewan Editor karena dianggap tidak sesuai dengan misi jurnal. Untuk melakukan trial-error demi mendapatkan jurnal yang tepat bisa menghabiskan waktu lebih banyak dari perkiraan penulis.

Elsevier telah menyediakan sebuah fitur menarik, yakni ‘Match your abstract to journal‘ untuk menemukan target jurnal yang tepat bagi artikel kita.

Fitur ini dapat ditemukan di: http://www.elsevier.com/journal-authors/home

Pertama-tama, klik ‘Start matching’

Kedua, ketik judul artikel di ‘Paper title’

Lalu copy dan paste abstrak kita di ‘Paper abstract

Tentukan maksimum tiga ‘field of research‘. Semakin banyak, maka semakin besar kemungkinan jurnal yang tepat untuk artikel kita.

Klik ‘find journal’

cek ‘Search result’

Informasi paling penting untuk dicermati adalah nama jurnal, impact factor, percentage of acceptance.

Untuk mendapatkan keterangan lebih lengkap, klik View scope and more information atau Submit Your Paper di bawah tiap nama jurnal yang direkomendasikan.

Pekanbaru,

When Being Competitive is Counterproductive

I’m not trying to sound like any post at blogs.hbr.org.

But, I like to emphasize that the competitive mind-set is a classic problem in life. However,  when I did my PhD, I learned a lot about the advantage of networking and collaboration in pursuing my final goal. I got a lot of supports during the journey from various sources since I tried to be open minded about other people’s contribution.

Life is full of passion and desire on many physical and emotional things. We also want to be recognized from our success. This causes us to work hard and try to reach any possible opportunities in pursuing our dreams. Sometimes we look around us and cannot control our negative feelings towards other people’s achievements. Then we trap into such a feeling, ‘if he/she could do it, why I couldn’t do it too?’  The notion that could boost our emotions and adrenaline to move faster than anyone. Hence, we just want to be known eventually, that we are as good as them.

It is a normal to compete with other people.
But, when it is just for a recognition and approval from other people, then you’re misleading.

Then, we are suggested to change the mind-set in order to gain more results.
A noble/high aim needs big energy and sources. 
A single success is normally short term and far from prominent output.

Take a look a professional sports player, for example. If someone is very successful as a single player in one sport tournament for a long time, he/she must have a great team behind him/her. A simple example is the Formula One driver. He has enormous supports during the race or outside the race. He needs a fast, accurate and reliable team to help him to win every race in a season.

Adopting the same approach on working in a big project, could help us to save time and energy while guarantee collective success for every person in a team. I think this is the best part.

In particular for the environment with limited resources, it is advisable for each person to start collaboration than being a purely competitive. According to Tina Seelig (2009) in ‘What I Wish I Knew When I was 20’:

“Where there are limited resources, being driven to make yourself and others successful is often a much more productive strategy than being purely competitive. Those who do this are better able to leverage the skills and tools that others bring to the table, and to celebrate other people’s successes along with their own.”

Then, to valuate our sources and admit our limitations is imperative to create something excellent in the long run. We need to reduce our ego and start to include other people in our efforts than compete with them, because it is counterproductive.

Pekanbaru,

The Importance of Preparation

I am sure a good preparation could make differences in any big effort.

Before I came into my PhD study, I did some research to know exactly the expectations of being a PhD scholar. PhD study certainly needs research skills such as critical thinking, effective reading and scientific writing. However, I’ve encountered some words related to non-research attitudes, namely ‘braveness, resourcefulness, perseverance and endurance’, etc, during the study. Hence, those words became the keywords of my PhD stages.

I could  put those words in order like this:
Before apply PhD: ‘braveness’
First year of PhD: ‘resourcefulness’
Second year and third year of PhD: ‘perseverance’
Final year of PhD: ‘endurance’ 

I learned that doing a PhD is not only to gain a degree, but also a ‘heroic journey’. It must be involving a strong heart and mind to win the ‘battle’. I just could suggest you to read ‘The Alchemist’ by Paulo Coelho to understand the philosophy of the ‘heroic journey’. I’ve been inspired by the story til I could describe my PhD stages in four words.

Anyway, any important journey needs good preparation. You cannot just jump into the battle without good strategy. This what I mean by preparation. You must learn and make strategies to be able to face the challenging sequences during the ‘battle’. There is no straight way to overcome it. Or, otherwise it is going to be a ‘cheap’ battle, because we could easily conquer it.

What I did during my PhD few years ago, was not just to interview my lecturers, Professors, friends, or senior colleagues, but I also attended many workshops on how to do PhD, and consulted many books on ‘How to get a PhD’. There are many books that can help us to understand the nature of PhD study. It is a long term under pressure situation with one final goal of thesis submission. Hence, the interviews, workshops, and books are very useful to help me design the strategies. I didn’t want to face the challenge without knowing what to fighting for. Although it was a difficult and stressful journey, I was glad I have overcame it eventually.

It feels wonderful.

Well, just to remind us that success is described as ‘when the opportunity favors only the prepared mind’. Again, we could see that ‘a good preparation is essential’.

Pekanbaru,

Transformasi Teknik Mengajar

Tiap akhir semester, saya dan teman sejawat cukup deg-degan menunggu hasil pembelajaran mahasiswa di kelas X. Deg-degan itu semakin menjadi-jadi ketika batas kelulusan selalu tak jauh dari tahun sebelumnya. Pertanyaan pertama yang muncul di kepala saya selalu “harus bagaimana lagi ya?”

Sebagai pengampu mata kuliah X sejak tahun 2002, saya merasa kekurangan ide untuk mengajarkannya. Sebenarnya sudah ada sebuah paper yang pernah saya tulis mengenai inovasi pembelajaran mata kuliah X, tentang pembuatan alat peraga, program Computer Assisted Learning, dan bahan ajar. Sayangnya setelah semua bentuk ‘inovasi’ tersebut dilihat-lihat pada tahun 2012, baru saya menyadari kalau bahan-bahan itu harus diupdate dan teknik mengajar perlu diasah kembali.

Pucuk dicita, ulam tiba.

Setelah mengikuti Pelatihan Pekerti-AA yang diselenggarakan Pusbangdik UNRI pada bulan Juli 2012 lalu, saya diingatkan kembali untuk mengevaluasi beberapa hal. Saya memperbaiki ‘Kontrak Pembelajaran’. Hasilnya menarik, karena semua  mahasiswa pada semester lalu tidak ada yang tidak membawa kalkulator dan peralatan tulis lengkap untuk kuliah atau ujian.

Setelah melakukan proses ‘Rekonstruksi Mata Kuliah’, akhirnya diperoleh beberapa penyebab kuliah X tidak maksimal.

a) Kemampuan Matematika dan Fisika mahasiswa baru tidak diketahui. Kemampuan dasar Matematika dan Fisika sangat diperlukan untuk penyelesaian soal-soal dalam mata kuliah X, tetapi informasi awal level pemahaman mahasiswa malah tidak dimiliki.

b) Konsep mata kuliah X memerlukan pemahaman dan imajinasi tentang arah aliran gaya-gaya yang bekerja pada suatu benda. Tanpa alat peraga, mahasiswa sering kesulitan membayangkan aksi-reaksi yang terjadi saat sebuah benda dibebani.

c) Mahasiswa kurang aktif dan pasif dalam belajar. Sering ditemukan mahasiswa yang mengeluh bahan ajar terlalu konseptual. Padahal, bukankah itu tugas mereka, untuk memecahkan persoalan tersebut? Kemudian, mahasiswa tidak mau aktif bertanya atau mengemukakan pendapat di kelas.

Sedangkan ‘Observasi Microteaching’ yang dilakukan teman sejawat dan tutor dari Pusbangdik diperoleh kesimpulan menarik seperti:

a) Perlu perubahan pembelajaran pasif (Teacher Centered Learning) menjadi pembelajaran aktif (Student Centered Learning)

b) Aspek perencanaan pembelajaran masih lemah karena minimnya interaksi antara mahasiswa dengan mahasiswa

c) Penilaian akhir perlu dibuat rinci, sehingga mahasiswa mengetahui dasar-dasar penilaian agar mereka dapat belajar dengan terukur.

Berdasarkan hasil review tersebut, saya mencoba menerapkan salah satu masukan untuk mata kuliah X pada Semester Pendek 2012/2013 lalu.

Sebelum perkuliahan dimulai, saya membuat panduan kuliah Semester Pendek. Panduan singkat tersebut memuat Kontrak Perkuliahan, Sistem Penilaian, materi per minggu, soal-soal latihan untuk diselesaikan setiap minggu, kisi-kisi UTS dan UAS, serta hasil akhir yang diharapkan. Memang sangat terasa perbedaannya, karena mahasiswa jadi sangat fokus dan berusaha mencapai tujuan yang diharapkan secara konsisten.

Saya cukup puas dengan penerapan satu masukan tadi. Mudah-mudahan Semester Ganjil 2013/2014 nanti, banyak masukan lain bisa dilakukan. Maklum, target saya tingkat kelulusan mata kuliah X tidak ‘mengejutkan’ lagi bagi mahasiswa dan… tentu saja, saya sendiri.

Pekanbaru,

 

 

 

Komunikasi via Email

Sebenarnya tidak mudah memulai sesuatu yang baru. Tetapi setelah setahun lebih melaksanakannya, saya merasa puas dengan strategi andalan ini dalam berkomunikasi dengan mahasiswa.

Pengalaman lama mengajarkan saya tentang rumitnya berkomunikasi dengan mahasiswa lewat telepon genggam. Pertama, waktu berkomunikasi yang tidak tepat, misalnya setelah shalat Subuh atau setelah shalat Isya. Seharusnya mahasiswa tahu bahwa jam kerja hanya pukul 8 pagi sampai 4 sore dan urusan mereka akan direspon pada saat itu. Kedua, cara berkomunikasi yang kurang luwes dan kurang hormat. Saya tidak nyaman kalau mahasiswa berbicara kurang sopan dan bernada menodong seolah-seolah ‘hanya saya sajalah yang belum membuat keputusan’. Ditodong begitu, kok sepertinya saya sangat menyusahkan hidupnya, padahal kalau tidak ada saya pasti ada yang akan menggantikan.

Sewaktu bersekolah di UMIST atau Curtin, saya jarang menelepon dosen atau Profesor secara langsung. Untuk bertanya lebih mudah menggunakan email. Semua tercatat dan mudah ditelusuri kembali. Oleh sebab itu saya memilih menggunakan email mengingat kesantaian, keteraturan dan tercatatnya komunikasi serupa itu. Saya bisa mengirim bahan kuliah secara berkala sebelum perkuliahan dimulai. Pengumuman untuk mahasiswa bisa disampaikan lebih cepat via email tanpa harus datang langsung ke kampus. Selain itu, mahasiswa bisa mendapatkan keputusan dan saran kapan saja tanpa harus menunggu jam kerja esok hari.

Mahasiswa yang melakukan Tugas Akhir merasa cara ini lebih fleksibel. Mereka tidak perlu menunggu berjam-jam sampai saya datang ke kampus hanya untuk bertemu. Mereka boleh mengirim proposal, laporan atau slide presentasi untuk diperiksa. Mahasiswa yang memerlukan saya sebagai penguji juga menggunakan cara ini. Mereka harus belajar menulis email untuk menanyakan kesediaan dan memberikan konfirmasi akhir. Untuk hal ini, saya bertekad melakukan apa yang saja janjikan, yakni insya Allah saya akan datang menguji tepat waktu. Kebaikan dari cara komunikasi via email adalah mahasiswa belajar untuk berkomunikasi secara sopan melalui tulisan, dan belajar ‘organized’ atau mengatur waktu pengiriman email supaya tidak tergesa-gesa saat mengundang saya sebagai penguji.

Sejauh ini saya sangat puas dengan organisasi komunikasi via email meski pada awalnya cukup merepotkan karena mahasiswa tidak terbiasa menggunakan cara ini. Memang harus sabar mengingatkan mereka untuk menulis dengan sopan tanpa singkatan, atau menegur mahasiswa yang terlambat mengundang saya.  Buah manis yang bisa dipetik, semisal saya tidak pernah diganggu telepon oleh mahasiswa, punya waktu fleksibel untuk merespon email sehingga dapat memberikan saran bermutu, maupun dapat diakses kapan dan di mana saja oleh mahasiswa.

Pekanbaru,

Seminar Internasional ‘Sustainability in Concrete Technology and Construction’

Ibu/bapak yth,Sebagai bagian dari perayaan Dies Natalis Prodi Sipil UK Petra ke 51,
kami berencana menyelenggarakan seminar ‘Sustainability in  Concrete
Technology & Costruction’, pada:

Hari, tanggal : Rabu, 18 September 2013
Tempat        : Auditorium UK Petra
Waktu        : 08.00-17.00

Pembicara utama dalam seminar ini adalah:
1. Prof. Koji Sakai (Kagawa University, Jepan)
2. Prof. Takafumi Noguchi (Tokyo University, Jepan)
3. Prof. DongUk Choi (Hankyong National Uni, Korea)

Selain itu juga ada presentasi/sharing dari beberapa industri dengan
tema ‘How a Concrete (or related) Industry can contribute to a more
sustainable society’

Bersama ini saya kirimkan flyer dari seminar tersebut, silakan dicetak
bila memerlukan. Mohon bantuan untuk meneruskan informasi ini ke relasi
ibu/bapak.

Demikian, untuk perhatian yang diberikan saya ucapkan terimakasih.

Salam,
Panitia

Informasi Konferensi Internasional

Untuk mengetahui informasi konferensi internasional yang akan berlangsung termasuk Call for Paper (undangan pengumpulan naskah), maka dua situs berikut sangat berguna. Gunakan fitur ‘search’ untuk memfilter bidang konferensi sesuai keinginan.

www.conferencealerts.com

www.wikicfp.com

 

Guru, siswa dan Facebook

WACOT, Western Australia College of Teaching disciplinary committee pada tahun 2009, meminta agar guru tidak berkomunikasi dengan siswa melalui Facebook atau Myspace. Pelanggaran yang telah dilakukan oleh guru seperti memajang foto sangat pribadi untuk diakses siswa ataupun pendekatan seksual dianggap tidak relevan dengan hubungan guru-siswa. Nah, sebenarnya apa saja dampak ‘friend’ dengan siswa ini bagi kita, para guru?

Facebook memudahkan kita semua untuk menjalin persahabatan, mencari jejak teman-teman yang pernah hilang ataupun berkomunikasi dengan teman-teman kita sekarang. Tetapi, Facebook yang sudah diakses sekitar 300 juta orang per 2010 ini, banyak menimbulkan pro dan kontra, salah satunya dari komite institusi pendidikan mengenai persahabatan antara guru dan siswa di jejaring sosial.

Beberapa institusi pendidikan di Western Australia telah melarang guru dan siswa menjadi sahabat, kecuali jika mereka memiliki hubungan keluarga. Isu ini terasa sensitif, karena guru dan siswa seharusnya memiliki hubungan seperti pengajar dan pelajar yang harus menghormati pihak pemberi ajaran. Jika berteman di Facebook, maka segala informasi mengenai satu sama lain akan mengalir deras tanpa ada batas kepantasan lagi. Siswa mungkin tidak perlu mengetahui kehidupan pribadi guru terlalu sering, karena selain dapat menjadi bahan olokan, maka pengetahuan tersebut akan diinterpretasikan secara berbeda sehingga mengurangi rasa hormat mereka terhadap guru. Apalagi komentar-komentar pribadi tertentu dari teman-teman guru yang dapat diakses siapa saja membuat siswa mengetahui hal-hal pribadi guru yang perlu mereka teladani.

Masalah kedua yang sering dihadapi guru di negara Barat, adalah mudahnya pendekatan seksual melalui situs seperti ini. Siswa dan guru bisa terjebak dalam hubungan persahabatan platonik yang sering disalah artikan oleh siswa maupun guru. Siswa sering tergantung pada guru untuk hal-hal pribadinya, mengganggu kehidupan pribadi guru dan dapat membuat guru bersikap kurang adil pada siswa tertentu.

Guru-guru yang tidak berkomitmen terhadap hubungan jangka panjang sering tergoda melihat siswa mereka sendiri. Karena siswa di posisi yang lemah, maka mereka cenderung mengikuti keinginan guru untuk bersahabat lebih intim. Tentu saja kegiatan ’ekstra kurikuler’ semacam ini tidak lazim dan mengakibatkan guru terkena tindakan indisipliner.

Lain masalah kontra, lain pula dengan beberapa institusi yang pro dengan jejaring sosial semacam Facebook. Seorang pengarang buku mengenai Blog menyebutkan bahwa Facebook dapat dioptimalkan untuk proses pengajaran. Facebook dapat diakses 24 jam oleh siswa, sehingga hal-hal yang ingin disampaikan dengan cepat dapat dipublikasi tanpa harus menunggu saat berada di depan kelas. Siswa juga dapat membuat forum untuk mata pelajaran tertentu, berdiskusi mengenai kesulitan maupun memberi motivasi pada teman-teman mereka tanpa harus bertemu langsung. Pendek kata, Facebook menjamin efisiensi program belajar-mengajar.

Salah satu manfaat lain dari Facebook yaitu membuat data base siswa. Jika siswa menjadi ’teman’ kita, maka keberadaan mereka dapat dilacak dengan mudah. Tetapi manfaat seperti ini tidak begitu besar, karena jarang sekali ada moderator yang memiliki dedikasi tinggi pada keberadaan grup. Mungkin alasan terbaik yang pernah ada yaitu Facebook menjalin silaturrahmi antara guru dan siswa. That’s it.

Fitur yang ada di Facebook juga dapat digunakan sebagai win-win solution masalah seperti ini. Kita bisa mengelompokkan siswa dalam Friend List. Kita bisa mengecualikan berbagai info pribadi kita dari siswa. Fitur ‘privacy setting’ dalam album foto juga dapat diaktifkan agar siswa tidak dapat melihat foto-foto yang ingin kita jauhkan dari mereka. Di status juga bisa kita set, siapa saja yang tidak perlu mengakses status kita. Hal itu bisa dibilang cukup sukses dalam mengantisipasi ketidaknyamanan berteman dengan siswa.

Bagi saya yang berstatus akademisi,  saya cenderung pada pendapat membatasi hubungan antara guru dan siswa di Facebook. Sebenarnya saya merasa kurang nyaman jika kegiatan sehari-hari, teman-teman maupun komentar saya diketahui mahasiswa yang sedang aktif kuliah. Sebab, saya hanya menginginkan hubungan yang professional dengan para mahasiswa saya.

Perth,
Berteman nanti saja kalau sudah lulus, ya…