Catatan dari Workshop ‘Ayo Cepat Lulus’ Jurusan Teknik Sipil FT Universitas Riau

Sekitar 150 mahasiswa memadati ruangan di hotel MP dekat kampus Unri dalam acara workshop ‘Ayo Cepat Lulus’ yang ditaja Jurusan Teknik Sipil FT Universitas Riau. Kedua narasumber adalah psikolog Hj Aida Malikha MSi (Biru Konsultasi Psikologi Humanika), dan Dr Mirra Noor Milla (UI). Ditinjau dari judul dan sasaran kegiatan, maka dapat disimpulkan bahwa workshop ini merupakan salah satu usaha ‘human approach’ dalam mempercepat masa studi dan meningkatkan jumlah kelulusan mahasiswa Jurusan Teknik Sipil.

Ibu Hj Aida Malikha memberikan pengantar faktor-faktor yang menyebabkan masa studi lama, yakni malas, terlalu banyak berorganisasi, sibuk bekerja, terlalu banyak sosialisasi dan hambatan tugas akhir. Mahasiswa sendiri menambahkan bahwa lamanya masa studi karena mereka masih memiliki banyak nilai di bawah D, dosen killer, dan pelajaran yang susah. Solusi dari bu Aida adalah menguatkan motivasi, manajemen waktu dan membuat skala prioritas. Untuk meningkatkan motivasi, maka mahasiswa harus menghilangkan mitos-mitos seperti dari daerah belum tentu sukses, dosen killer selalu memberi nilai buruk, dan sebagainya. Mahasiswa harus ulet, ingin jadi role model, dan menyadari adanya keterbatasan waktu dan biaya untuk studi. Manajemen waktu yang baik, disiplin, tidak suka menunda, menyelesaikan apa yang sudah dimulai (teguran buat diri saya), dan rajin bimbingan tugas akhir agar selesai tepat waktu.

Soal skala prioritas, bu Mirra menambahkan bahwa prioritas dihubungkan dengan ‘goals’ atau tujuan. Fokus dengan prioritas membuat mahasiswa tidak mudah melalukan ‘upaya pengalihan’ saat menghadapi sesuatu yang penting tetapi tidak mereka sukai. Selain itu perlu belajar membuat rencana dengan konsep SMART (Specific, Measurable, Attainable, Realistic, Time Bound) sehingga semua target bisa diselesaikan dalam jangka waktu tertentu, bahkan lebih banyak dari perkiraan semula. Untuk menyelesaikan prioritas, mahasiswa harus banyak memiliki strategi maupun berusaha lebih banyak dengan memunculkan plan A, plan B, serta membuat rewarding time jika suatu tugas selesai agar tercipta ‘work-life balance’.

Catatan dari workshop ini adalah:

a) mitos-mitos tentang studi perlu dibuktikan, karena mitos belum tentu benar

b) buat skala prioritas menggunakan teknik SMART agar cepat lulus dan meminimalisir upaya pengalihan saat menunda-nunda sebuah pekerjaan penting

c) harus banyak strategi dan ikhtiar lebih panjang saat kondisi kurang kondusif

d) jadilah subyek yang mengendalikan keadaan, bukan obyek yang dikendalikan keadaan

e) Utamakan integritas dan values agama serta moral, bukan hanya usaha ilegal supaya mendapatkan nilai terbaik dan cepat lulus.

Sebagai moderator di sesi dosen dan mahasiswa, saya mewakili rekan sejawat sangat mensyukuri terlaksananya kegiatan ini agar perbaikan keadaan dapat dilakukan untuk membantu memperbaiki mindset mahasiswa dan mempercepat kelulusan di Jurusan Teknik Sipil beberapa waktu mendatang. Semoga perbaikan terus-menerus ini akan membuahkan hasil yang gemilang.

Pekanbaru, 16 November 2017

Dosen dan Kegiatan Pengabdian Masyarakat (Catatan dari Monev Flipmas Batobo April 2016)

12991082_1407215415961797_7121658394406674433_n

Tridharma Perguruan Tinggi merupakan trilogi kewajiban yang harus dilakukan oleh institusi. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Pasal 20 Ayat 2) atau Tri Dharma. Oleh karena itu perlu kesadaran bahwa trilogi tersebut tidak berdiri secara mandiri tetapi memiliki keterkaitan erat satu sama lain untuk semua sivitas akademika seperti dosen dan mahasiswa. Pengajaran memiliki tujuan mentransfer pengetahuan dan membuka cakrawala mahasiswa sebenarnya sering diasumsikan sebagai tugas pokok dosen. Padahal kedua kewajiban lain seperti penelitian dan pengabdian masyarakat seharusnya mendapat prioritas sama pentingnya dengan pengajaran. Penelitian bisa dijadikan ujung tombak pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat, karena hasil penelitian dapat mempercepat pengembangan ilmu guna meningkatkan wawasan dosen untuk pengajaran. Hasil penelitian juga dapat membantu perbaikan kesejahteraan dan peningkatan wawasan masyarakat yang masih berada di batas garis kemiskinan dan belum mendapat perhatian khusus dari pemerintah.

Flipmas Batobo Wilayah Riau sejak dibentuk pada tahun 2012 oleh bapak Padil ST., MT, beranggotakan para akademisi dengan berbagai latar belakang institusi. Flipmas Batobo saat ini telah melakukan berbagai kegiatan di bidang Pengabdian Masyarakat seperti di Kawasan Ekonomi Masyarakat di Batu Bersurat, Kampar dan Bantalan, Tembilahan dengan melibatkan masyarakat seperti petani, peternak dan pedagang yang didukung oleh pemerintah setempat.

Pada tanggal 03 April 2016 di Sekretariat Flipmas Batobo Wilayah Riau, dilaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) kinerja Flipmas Batobo. Monev dihadiri oleh para Ketua FI dan FW, dan para profesional pendidik masyarakat (prodikmas). Prof Sundani Nurono Soewandhi (Farmasi ITB) sebagai reviewer Flipmas, memberikan masukan, gagasan dan saran terkait pelaksanaan kegiatan Flipmas Batobo di kedua KEM tersebut.

Kegiatan monev dibuka dengan penjelasan Prof Sundani mengenai ciri khas aktivitas Flipmas yang meliputi a) keikhlasan, b) kebhinekaan, dan kewilayahan. Kegiatan pengabdian yang memiliki dampak besar biasanya tidak hanya bersifat responsif tetapi bersumber dari permasalahan dan kebutuhan masyarakat setempat. Sebab, pengabdian yang berhasil akan tidak hanya mensejahterakan masyarakat tetapi juga membantu mencerdaskan masyarakat. Mengenai kebhinekaan dan kewilayahan, Prof Sundani menekankan keunikan masyarakat Indonesia yang berbasis tradisi dan cenderung mengulangi best practices dari nenek moyang mereka. Apalagi jika di suatu daerah telah terbentuk budaya atau tradisi kuat, maka pola pemberdayaan masyarakat dengan menggunakan kembali prinsip kearifan lokal akan lebih mudah diterima oleh masyarakat yang terkadang karena intervensi budaya lain telah kehilangan jati dirinya.

Program-program yang berbasis kearifan lokal merupakan daya tarik bagi prodikmas saat bekerja dengan masyarakat. Para prodikmas sebagai perwakilan ilmuwan dari perguruan tinggi di masyarakat memiliki kemampuan nalar menelusuri prinsip-prinsip tersebut melalui penelitian, menerjemahkannya secara ilmiah dan memperkuat implementasinya melalui transfer pengetahuan langsung ke masyarakat. Masyarakat yang telah mengetahui prinsip tersebut tetapi selama ini belum mendapatkan dasar teori ilmiah akan terbuka nalarnya sehingga dapat menggunakan wawasan tersebut untuk mendapatkan hasil akhir yang lebih efektif dan efisien. Kerjasama prodikmas dan masyarakat akan membuahkan hasil berupa peningkatan wawasan, peningkatan kesejahteraaan dan penguatan jati diri masyarakat. Tetapi keberhasilan skema pemberdayaan perlu ditunjang dengan pengetahuan mengenai latar belakang masyarakat dan keunikan atau ciri khas daerah pemberdayaan. Jika masyarakat yang tidak memiliki budaya di tempat baru, contohnya masyarakat transmigrasi, maka usaha tersebut akan memerlukan waktu lebih lama daripada masyarakat yang sudah menemukan keunikan dan keunggulan lokal.

Tim dosen Pro Pengabdian Masyarakat yang ingin aktif berkarya dengan membuat skema-skema pemberdayaan masyarakat aktual dan aplikatif perlu bersinergi dengan pemerintah daerah, ketua masyarakat dan pihak industri melalui dana Corporate Society Responsibility (CSR). Para prodikmas tidak dapat bergerak sendiri melainkan harus bersama-sama dalam tim multidisiplin untuk melakukan proses tersebut. Selain memiliki kemauan, semangat dan kompentensi, untuk membuat kegiatan yang berdampak besar pada masyarakat, prodikmas juga harus melibatkan pemahaman tentang culture/budaya masyarakat yang dibinanya. Untuk itu peran sosiologi yang dapat menjembatani prodikmas dengan masyarakat terasa penting dan akan membantu menjembatani dan mengurangi friksi dengan masyarakat majemuk tersebut. Prodikmas juga sebaiknya meningkatkan people skill, atau keahlian untuk berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang dan pendidikan. Beberapa keuntungan yang diperoleh dari melakukan pengabdian kepada masyarakat lewat program kerja yang efektif dan terukur adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat, peningkatan wawasan prodikmas mengenai masyarakat, peningkatan inovasi di bidang penelitian dengan mengambil kasus-kasus aktual yang terjadi di masyarakat, dan perbaikan pola pikir masyarakat serta terciptanya budaya baru di kalangan masyarakat. Hal ini akan menjadikan pengabdian yang dilakukan berhasil, menurut definisi Prof Sundani, yakni tidak hanya mensejahterakan masyarakat, tetapi juga mencerdaskan masyarakat Indonesia.

Acara monev yang penuh inspirasi dan dorongan untuk lebih menyukai membantu masyarakat tersebut berakhir setelah dua jam sesi ceramah dan diskusi oleh Prof Sundani. Diskusi monev ditutup oleh Ketua FI dengan bijak mengutip kisah Einstein tentang manfaat dan sukses, yakni “Orang yang memikirkan sukses belum tentu memberikan manfaat besar bagi lingkungannya. Sedangkan orang yang bermanfaat bagi banyak orang, maka sukses biasanya akan menyertai”.

Pekanbaru,

Written by Monita Olivia

Prodikmas

Post ini sudah dilaunch di http://www.flipmas-batobo.org/2016/04/dosen-dan-kegiatan-pengabdian-kepada.html

Alumni Sharing Session to Australia Awards PhD Awardees

Jakarta, 22 Oktober 2015

Undangan untuk berbagi pengalaman saat PhD mendadak datang dari PostAwards Officer, mbak Rosi dan mas Danny di Australia Awards Indonesia. Saya tetap berpikir positif saja meski sedikit nervous karena pengalaman studi PhD kala itu banyak drama daripada lancar dan senangnya. Didorong keinginan kuat untuk berbagi, saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, Bismillah, saya datang ke kampus IALF di Plaza Kuningan, Menara Selatan, Jakarta.

Di kantor sudah menunggu  Prof Brian, bu Catharina dan pak Agus. Pak Agus, teman lama di Curtin, juga akan berbagi kisah inspiratif beliau selama PhD. Saya tidak heran mendengar succes story beliau, karena memang sukses sekali dan berhasil menjadi salah satu seleb Australia Awards Indonesia saat ini.

Untuk sharing session ini kami diwanti-wanti agar menceritakan masalah selama PhD dan apa yang telah kami lakukan untuk mengatasinya. Pak Agus berbagi tentang pengalaman jatuh-bangun selama studi sampai akhirnya beliau mendapatkan award pertama untuk risetnya. Kesuksesan terus berlanjut hingga beliau mendapat Habibie Award untuk riset beliau bagi masyarakat di Gunung Kidul yang kesulitan mendapatkan air bersih. Beliau menunjukkan sikap pantang menyerah meski harus berkutat dengan hal-hal tak disangka dan harus bekerja mandiri untuk catch up dengan waktu yang diberikan donor beasiswa.

Saya hanya berbagi informasi mengenai masalah akademik dan adaptasi budaya. Beberapa masalah akademik yang sering dihadapi mahasiswa Indonesia adalah kemampuan riset dan hubungan mahasiswa-pembimbing. Kemampuan riset seperti paraphrasing/summarizing, writing, dan academic presentation mestinya sudah dimiliki, tetapi baru dipelajari di tahun-tahun awal studi. Akibatnya banyak mahasiswa yang tersangkut kasus plagiarism, terlambat menulis atau mempublikasikan risetnya. Sedangkan masalah dengan pembimbing, biasanya terkait komunikasi, personality clash, pembimbing tidak berpengalaman, terlalu sibuk, atau pembimbing tidak punya waktu untuk kita.

Masalah budaya ternyata cukup berat bagi beberapa orang yang belum pernah tinggal di budaya berbeda. Mereka biasanya mengalami gegar budaya setelah melihat perbedaan-perbedaan yang kurang mengena di budaya lama. Tetapi kemampuan adaptasi budaya yang cepat, seperti langsung berintegrasi dengan budaya lokal dan bisa menginterpretasikan budaya lain dengan mudah, akan membantu proses tersebut tanpa perlu terlalu lama menderita.

Prof Brian setuju saya menyinggung tentang isu Reversed Culture Shock, sebab masa untuk beradaptasi kembali sering terasa lebih menyulitkan daripada menerima budaya baru. Ada beberapa tips untuk smooth adjustment yang saya paparkan, diantaranya berusaha memahami bahwa tidak hanya diri sendiri yang berubah, tetapi orang lain juga berubah, serta mau bersabar karena semua orang perlu waktu untuk merasa nyaman satu sama lain. Untuk tips lengkapnya, bisa dilihat di post berikut.

Saya merasa senang bisa berbagi tips dengan mereka. Semoga suatu hari bisa berbagi lagi.

Jakarta,

 

Presentasi Project DIES-UNILEAD DAAD

Maret 2015

Setelah bekerja keras menyelesaikan project untuk workshop UNILEAD, saya dan teman-teman diundang kembali ke Universitat Oldenburg, Jerman, untuk mempresentasikan project tersebut pada Maret 2015.

Pada saat itu saya masih bekerja sebagai Deputi Manager bidang Eksternal di Kantor Urusan Internasional, Universitas Riau (2012-2015). Project yang saya kerjakan, “Development of a Strategic Planning Document for Internationalisation of Universitas Riau 2015-2019” diselesaikan dalam waktu 4 bulan (Oktober-Januari) dengan melibatkan lebih dari 50 stakeholders yang terdiri dari pimpinan eksekutif, kepala unit, ketua program studi/jurusan, guru besar, dan dosen. Strategic Planning Document (Renstra) tersebut dikembangkan dengan mengacu pada Visi dan Misi Universitas, Statuta dan Peraturan Menteri mengenai internasionalisasi universitas. Untuk mengerjakan dokumen tersebut, saya banyak dibantu oleh para pimpinan dan guru besar di Univ Riau dengan memperhatikan trend perkembangan internasionalisasi di universitas besar dan menengah di Indonesia. Selain itu dikembangkan juga dokumen “Student Exchange and Summer Program” bagi prodi/jurusan yang ingin membuka program tersebut.

Pelaksanaan presentasi dibagi menjadi 2 grup. Prof Frank Fischer, dosen Project Management, menyampaikan aturan untuk presentasi, yakni tidak boleh membuka laptop dan handphone, dan kami diminta untuk memberikan apresiasi, respek, berkonsentrasi dan feedback bagi presenter.

Project yang dilaksanakan oleh teman-teman peserta UNILEAD lain disesuaikan dengan bidang kerja dan tuntutan perkembangan di universitas masing-masing. Beberapa orang mengambil isu terkini di perguruan tinggi dunia seperti internasionalisasi, jaminan mutu dan e-learning. Peserta lain memilih program-program pengembangan untuk infrastruktur, SDM, gender, dan special program untuk Engineer.

Saya mendapat kesempatan pertama untuk presentasi di Grup 2. Hal-hal yang disampaikan adalah teknis pelaksanaan project, kendala yang dihadapi dan lesson learned dari project tersebut.

Tim kami mendapat aplaus meriah setelah memperlihatkan dua produk project ini yakni dokumen Renstra dan panduan pelaksanaan Student Exchange Summer Program. Disamping itu saya mendapat tawaran menulis paper secara kolaborasi dengan staf di kampus Oldenburg mengenai perkembangan internasionalisasi Universitas Riau.

Aktivitas ini menjadi salah satu milestone dalam pengembangan kapasitas diri dalam mengerjakan project dengan skala tingkat universitas yang melibatkan banyak unsur stakeholder pada waktu relatif singkat.

Pekanbaru,

Menjadi Anggota The Australia Awards Alumni Reference Group-Indonesia 2014-2016

The Australia Awards Alumni Reference Group-Indonesia adalah perwakilan alumni penerima beasiswa pemerintah Australia yang dipilih dari ribuan profesional di berbagai disiplin ilmu dan bidang pekerjaan. Grup eksekutif ini dibentuk untuk memfasilitasi dan memaksimalkan kontribusi alumni penerima beasiswa pemerintah Australia dalam pembangunan di Indonesia di beberapa bidang seperti Education, Health, Poverty Reduction, Infrastructure, Food Security, Environment and Natural Disaster, Energy and Innovation Technology, and Investment and Business Climate. Kesembilan tim tersebut diketuai oleh Prof Frans Umbu Datta, former Rektor Universitas Nusa Cendana, Kupang.

DSC_2008

Saya terdaftar sebagai anggota tim Infrastruktur untuk ARG 2014-2016, dan telah mengikuti meeting ARG pertama pada tanggal 13 Desember 2014 di Jakarta. Pada pertemuan itu kami mendapat briefing dari tim Knowledge Sector Initiative (KSI) mengenai makna penting knowledge management dan networking untuk membantu menyelesaikan permasalahan pemerintah Indonesia dalam membuat kebijakan publik. Setelah sesi dari tim KSI, tiap tim ARG berdiskusi untuk merumuskan permasalahan yang tengah dihadapi pemerintah Indonesia di bidang yang kami pilih, kemudian membuat road map aktivitas dan action plan untuk jangka waktu 2 tahun sesuai bidang keahlian. Grup infrastuktur memiliki plan untuk mengadakan seminar/workshop, PDA (Professional Development Activity) dan publikasi isu seputar infrastruktur. Berikut adalah contoh plan yang dibuat  grup Infrastructure.

1-2016-06-06

Pembicara kunci kegiatan Meeting ARG 2014-2016 adalah Prof Mari Elka Pangestu, former Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2011-2014). Isu penting yang beliau bicarakan selain pengalaman sekolah di Australia, adalah mengenai perkembangan ekonomi kreatif Indonesia yang didasarkan pada knowledge based economy untuk produktivitas tanpa bergantung pada sumber daya alam. Bu Mari juga menambahkan beberapa contoh menarik produk-produk khas Indonesia yang bisa mendunia seperti games, makanan dan budaya.  Sebenarnya berdasarkan ranking dari The Economist Pocket World Figure 2015, posisi Indonesia dalam bidang ekonomi kreatif adalah no 5 di dunia. Saya tidak heran karena masyarakat Indonesia sejak dulu memang sangat kreatif dan bisa berkembang sendiri menjadi lebih baik jika diberi kail yang tepat. Disamping itu bu Mari juga mengajak untuk mengubah mind set dan berusaha lebih kompetitif agar dapat meningkatkan daya saing bangsa.

DSC_2077

Isi kuliah inspiring Prof Mari malam itu sangat menambah wawasan dan motivasi semua orang. Bagi saya sebagai akademisi, hal yang bisa dilakukan adalah untuk banyak terlibat membantu knowledge sharing dan capacity building di kalangan mahasiswa dan dosen-dosen junior lain, agar menghasilkan pekerjaan berkualitas, memiliki daya saing tinggi, selalu berpikiran maju dan haus ilmu (studi lanjut), dan serta sering berpartisipasi dalam kegiatan positif untuk mengubah mind-set.

Meski jalan masih panjang, keikutsertaan dalam grup ini merupakan langkah lain dalam hidup saya untuk membantu kemajuan bangsa Indonesia.

Pekanbaru,

Photos courtesy of http://www.australiaawardsindo.or.id/en/arg-news/377-arg-annual-meeting-2014.html

Tips dan Trick Belajar Bahasa Inggris

Beberapa tips dan trick berikut telah saya gunakan untuk menguasai bahasa Inggris, yakni bahasa penting dalam menuntut ilmu dan berkomunikasi dengan orang asing:

a) Lakukan secara rutin. Tidak perlu mengalokasikan waktu tertentu khusus untuk belajar selama beberapa minggu, tetapi sedikit-sedikit setiap hari dan rutin terlaksana ternyata lebih besar dampaknya. Misalnya rutin membaca satu artikel setiap hari dan mendengarkan film berbahasa Inggris di Youtube lebih mudah dilakukan ketimbang belajar khusus setiap hari selama 3 bulan. Jika tiap hari kita membaca satu artikel dan menonton satu film, maka dalam setahun ada 365 artikel dan 365 film dengan ribuan kosa kata baru dan ekspresi baru yang kita dapatkan. Otak lebih mudah menerima dan mengingat perbedaan-perbedaan tersebut.

b) Pelajari budaya asli. Belajar bahasa tetapi tidak mau memahami budaya orang yang menggunakannya (orang Inggris/Australia/USA) ternyata tidak membantu kita belajar bahasa. Masalah utama terletak di ‘sense’ orang asing tersebut dalam situasi tertentu. Kadang-kadang mereka menggunakan kata-kata berbeda untuk mengekspresikan sesuatu pada saat tertentu. Misalnya mereka menggunakan kata-kata ‘gentleman’ dalam situasi formal (akademis, society tertentu), dan ‘bloke’ dalam situasi informal (majalah teenager, percakapan sehari-hari).

c) Perbanyak latihan. Untuk bisa menjawab pertanyaan dalam tes TOEFL, IELTS, etc, maka tidak ada jalan kecuali berlatih memahami tipe-tipe soal. Baru-baru ini saya menggunakan trick sederhana dari sebuah buku latihan IELTS, yakni ‘lakukan secara rutin’ dan ‘gunakan satu handbook’ saja. Surprise, surprise! Penggunaan satu macam handbook untuk belajar berarti kita akan mengulang-ulang pertanyaan yang sama dan kalau dilakukan tanpa memahami tujuannya, maka akan sangat membosankan. Tetapi disitulah letak kunci keberhasilannya. Menggunakan soal yang sama berulang-ulang, akan membantu kita memahami tipe-tipe soal sampai bisa mengenali dan mengingatnya. Kemudian setelah menguasai tipe soal tersebut, kita baru dianjurkan mempelajari buku lain. Tetapi biasanya cukup satu buku, dan cukup diulang-ulang sampai paham.

d) Selalu ambil kesempatan praktek. Biasanya hal ini terjadi saat ada kesempatan mendengarkan ‘native speaker’ berbicara atau praktek ‘speaking/presentation’ di depan para native speaker. Ada perbedaan cara berpikir antara orang asing dengan orang Indonesia, pada khususnya, sehingga kita harus bekerja keras menghantarkan presentasi atau percakapan yang mengalir dan bisa dimengerti oleh semua orang. Terus ambil kesempatan untuk praktek, lalu perhatikan feedback berupa ‘gesture’ atau ‘respond’ dari para native speaker.

e) Tidak boleh menyerah dan terus asah kemampuan. Cara terbaik adalah mengetahui skor kemampuan bahasa Inggris melalui TOEFL atau IELTS. Lakukan tes secara berkala untuk mendapatkan skor tersebut di lembaga bahasa bereputasi. Perbaiki nilai terendah dan lakukan tes lagi untuk mendapatkan feedback atas usaha yang telah kita lakukan. Lupakan ‘comfort zone’ dan pantang menyerah saat mengupayakan skor terbaik. Skor ini tidak hanya berguna sebelum mendapatkan sekolah saja, tetapi juga saat bekerja, misalnya untuk pendaftaran beasiswa kursus atau postdoc.

Pekanbaru,

Dihadapi saja, jangan ditakuti

‘Lagi-lagi tentang mindset.’

Beberapa orang mahasiswa tugas akhir di tempat saya sangat takut saat mendapatkan dosen tertentu sebagai penguji. Bukannya menyusun strategi, menambah amunisi atau mencari ketenangan, mereka lebih suka menghabiskan waktu untuk mengulang-ulang cerita horror tentang ujian proposal dengan dosen tersebut.

Saya tak habis pikir dengan mindset mereka.

Bukankah dosen yang killer tapi pintar itu sebenarnya lebih banyak memberikan masukan bagus-bagus untuk tugas akhir mereka? Kenapa harus takut dan tersinggung jika kita memang layak untuk diajak berpikir mengenai tugas akhir? Mengapa defensif, seolah-olah kita tidak boleh ditanya tentang pekerjaan kita? Jika ditanya saja sudah ngeri, bagaimana dengan mempertahankan argumennya?

Pantas, saya harus menceritakan kisah pribadi berikut saat dibimbing dosen killer se jurusan waktu S1. Memang menakutkan, tapi saya pasrah saja, karena:

        Apa yang terlihat buruk di luar belum tentu seperti itu di dalamnya.

       Sesuatu yang sulit dan pahit, pasti banyak manfaatnya.

        Hidup itu memang penuh perjuangan…

        Bersakit-sakit dahulu, berenang-renang ke tepian, berakit-rakit ke hulu, bersenang-senang kemudian (woi, kebalik!)

        etc, etc.

Berbekal mindset demikian, saya harus rela datang pukul lima pagi setelah shalat subuh hanya untuk asistensi di rumah beliau! Ngantuk, lapar, kedinginan, tapi harus menahan diri melihat laporan Kerja Praktek dicoret-coret setiap hari. Hari ini salah bab I dan II. Besok, masih salah bab I, II, dan III. Besoknya lagi, bab itu-itu lagi yang salah: I, II, III, dan IV. Untunglah hanya ada 5 bab, sehingga setelah asistensi intensif setiap hari dalam seminggu, saya boleh menjilid laporan KP dan berhak atas nilai A.

Hal seperti itu yang tidak mau dipahami mahasiswa saya sekarang. Ketimbang menyiapkan diri atau mengerjakan ‘homework’nya terlebih dahulu, ia memilih khawatir siang-malam sampai detik-detik berhadapan langsung dengan dosen yang ditakutinya tiba. Tidak heran 70% peluang gagal ada di tangan mereka.

Sebagai langkah penyelesaian, pertama, saya minta mahasiswa untuk menukar mindsetnya. Ia harus membuat dirinya memahami bahwa ‘dosen penguji proposal hanya ingin membantu supaya tugas akhir yang dihasilkan lebih berkualitas’. Saya tekankan hal itu berulang-ulang kali.

Kedua, ia harus dibantu dalam mempersiapkan diri, karena orang yang sedang tegang pasti tak bisa berpikir jernih. Beberapa teknik saya gunakan, misalnya mengirimkan list pertanyaan tentang TA, membaca dan mengedit proposal sehingga lebih layak dibaca, dan mengajarkannya membuat presentasi TA yang menarik. Tunjukkan bahwa pembimbing sangat peduli dengan persiapannya dalam seminar, sehingga timbul kepercayaan di diri mahasiswa bahwa ia tidak sendirian berjuang di sana.

Akhirnya, saya ajarkan ia untuk pasrah. Saat semua usaha sudah dilakukan secara maksimal, artinya kita sudah menyelesaikan 90% dari seluruh persiapan, ia harus bisa menerima masukan yang terburuk sekalipun. Disamping itu saya membantu menumbuhkan rasa optimis bahwa kalau ia harus mengulang, saya siap mencarikannya judul baru dan membantunya dari awal lagi. Meskipun saya sendiri tahu bahwa hal itu tidak perlu sampai demikian kalau semua persiapan sudah dilakukan dengan maksimal.

Pekanbaru,

Repost: A dedicated Dr IC

Tulisan ini pernah dipost pada blog ini.

Lelaki separuh baya bertubuh besar, tinggi, berambut putih, dan bersuara menggelegar itu memberi perintah sana-sini. Walaupun tengah berbicara dengan teknisi, dengan bahasa Inggris yang terlalu cepat tetapi terdengar mantap, sekali-sekali ia memberi petunjuk pada kerumunan mahasiswa di depannya.

Beberapa bulan setelah saya selesai studi literatur, Dr IC mendapat kesempatan untuk membaca proposal saya. Menurutnya, banyak hal yang harus diperbaiki walaupun proposal itu sendiri sudah ‘readable’. Ia bukan pembimbing utama, tapi hanya sebagai Associate Supervisor. Saya hanya bisa menerima komentarnya tanpa banyak protes, karena riset memang hal baru bagi saya. Disamping itu Dr IC adalah sesepuh dosen Struktur di Jurusan, so, hitung-hitungan cepat mengatakan bahwa pengetahuan saya sendiri paling 10% dari pengetahuannya. Dr IC menginginkan riset aplikatif, orisinal dan sesuai dengan tujuan akhir kualifikasi level mahasiswa doktoral. Saya seperti melihat sebuah puncak sebuah menara, padahal rasanya posisi saya sekarang masih berada jauh di luar pagar menara itu sendiri.

Dr IC terkenal akan campur-tangannya dalam berbagai hal di lab Beton. Meskipun sibuk dengan mengajar kelas dan terlibat dengan berbagai proyek, tetapi Dr IC selalu berusaha hadir di lab luas itu. Peralatannya membentang dari dalam lab Beton hingga di bawah ‘Big Blue Shed’. Big Blue, demikian mereka memanggilnya, adalah tempat menguji sampel dengan alat-alat berskala lapangan.  Dr IC adalah tipe orang yang tak sungkan duduk diam di lab mengutak-utik program dan mengkalibrasi data logger selama berhari-hari. Ia seperti sebuah kelengkapan lab, karena pengetahuannya yang luas di bidang teori dan aplikasi menjadi tempat rujukan bagi siapapun.

Beliau sepertinya selalu turun tangan ingin membantu (baca: mengurusi) riset siapa saja yang membutuhkan dirinya. Bisa jadi dari sekedar saran keilmuan hingga bantuan tenaga. Terkejut juga melihat Dr IC mau berkotor-kotor meratakan permukaan beton segar yang baru dicor milik seorang teman tanpa diminta. Saya sering terkaget-kaget mendengarnya berbicara langsung memberikan saran saat saya tengah mengerjakan sesuatu yang dianggapnya belum sempurna. Misalnya saat pemasangan sulfur cap untuk benda uji tes tekan. Tangan ini sampai pegal rasanya karena harus mengulangi pemakaian sulfur cap pada sampel agar mendapatkan permukaan yang rata sesuai alat kalibrasi. “Jika tidak, hasilnya kurang akurat karena beban tidak terdistribusi merata di permukaan benda uji”, kata Dr IC, membesarkan hati melihat wajah saya yang kelelahan.

Dosen seperti Dr IC memang bukan idola para teknisi di lab. Ia selalu ‘pushy, wants things on the spot, crazy’ dan segudang kata-kata berbunga (baca: mengerikan) selalu royal dilimpahkan mereka untuknya. Diri sayapun selalu bimbang menentukan sikap. Kadang mengidolakan, kadang ingin beliau pensiun saja dari lab. Jika sedang merasa dibantu, saya jadi ‘friends’, sedangkan saat jadwal riset saya terpotong untuk keperluannya,  sudah pasti langsung mencak-mencak sendiri berharap ia tidak pernah melakukannya. Tetapi biar tak jelas begitu, kadang di saat-saat paling tak terduga, Dr IC bisa ada untuk membantu. Untuk pengambilan data terakhir riset saya yang telah tertunda berbulan-bulan, Dr IC malah bersedia membantu mengkalibrasi dan mengatur alat-alat tes Modulus of Elasticity tersebut. Kami bekerja sama dengan baik sekali, tanpa beban perasaan.

Mungkin semangat Dr IC yang meledak-ledak, keinginannya agar semua orang bisa ‘as professional as they can be’, dan berbagai harapan agar semua tantangan yang diterimanya dalam pekerjaan dapat terakomodasi, membuatnya terlihat sangat produktif. Padahal jika dilihat dari kondisi fisiknya sekarang, Dr IC tampak lebih tua dan ringkih dari tahun-tahun sebelumnya. Ia masih tidak mau menyerah, meskipun umur dan penyakit terus menggerus kecepatan aktivitasnya. Ia bilang, kesukaannya pada ‘tantangan’ dan keasyikan memberi pengajaran pada mahasiswa Teknik Sipil dengan cara berbeda dari semestinya, seperti ‘beam competition’; bagaikan sebuah tonik penambah semangat hidup.

Semangat itulah yang ingin ditularkannya pada orang-orang di sekelilingnya. Pada dosen muda seperti saya, ia berpesan agar rajin berinovasi dalam pengajaran dan penelitian, sekaligus memperbaiki kompetensi diri agar dapat menjadi pengajar sekaligus insinyur yang profesional.

Saat saya berpamitan dari lab untuk terakhir kalinya, Dr IC menyalami saya dengan hangat. Saya lihat matanya seperti penuh berkata-kata tentang sesuatu. Entah apa artinya, sehingga saya merasa sungkan dan melirik lantai beton di bawahku. Sudah bertahun-tahun saya melihatnya di sana dan pada saat yang sama pula ia melihat kegigihan saya berjuang di lab maskulin itu. Meskipun pekerjaan itu memerlukan waktu lebih lama dari orang lain,  saya harap dia melihat usaha-usaha yang tidak sempurna itu sebagai sebuah usaha terbaik saya untuk menaklukkan kesangaran perjalanan mendaki menara PhD.

Detik berikutnya, saya bisa melihat penghargaan itu dari dirinya. Karena ia sekarang mulai berceramah tanpa ragu soal proyek terbaru mereka di Kalbarri, daerah pertambangan; seolah-olah saya seseorang yang telah lama dikenalnya dengan baik.

Thank’s Dr IC to remind me that, “There’s always a room for improvement”.

Perth,