Catatan dari Workshop ‘Ayo Cepat Lulus’ Jurusan Teknik Sipil FT Universitas Riau

Sekitar 150 mahasiswa memadati ruangan di hotel MP dekat kampus Unri dalam acara workshop ‘Ayo Cepat Lulus’ yang ditaja Jurusan Teknik Sipil FT Universitas Riau. Kedua narasumber adalah psikolog Hj Aida Malikha MSi (Biru Konsultasi Psikologi Humanika), dan Dr Mirra Noor Milla (UI). Ditinjau dari judul dan sasaran kegiatan, maka dapat disimpulkan bahwa workshop ini merupakan salah satu usaha ‘human approach’ dalam mempercepat masa studi dan meningkatkan jumlah kelulusan mahasiswa Jurusan Teknik Sipil.

Ibu Hj Aida Malikha memberikan pengantar faktor-faktor yang menyebabkan masa studi lama, yakni malas, terlalu banyak berorganisasi, sibuk bekerja, terlalu banyak sosialisasi dan hambatan tugas akhir. Mahasiswa sendiri menambahkan bahwa lamanya masa studi karena mereka masih memiliki banyak nilai di bawah D, dosen killer, dan pelajaran yang susah. Solusi dari bu Aida adalah menguatkan motivasi, manajemen waktu dan membuat skala prioritas. Untuk meningkatkan motivasi, maka mahasiswa harus menghilangkan mitos-mitos seperti dari daerah belum tentu sukses, dosen killer selalu memberi nilai buruk, dan sebagainya. Mahasiswa harus ulet, ingin jadi role model, dan menyadari adanya keterbatasan waktu dan biaya untuk studi. Manajemen waktu yang baik, disiplin, tidak suka menunda, menyelesaikan apa yang sudah dimulai (teguran buat diri saya), dan rajin bimbingan tugas akhir agar selesai tepat waktu.

Soal skala prioritas, bu Mirra menambahkan bahwa prioritas dihubungkan dengan ‘goals’ atau tujuan. Fokus dengan prioritas membuat mahasiswa tidak mudah melalukan ‘upaya pengalihan’ saat menghadapi sesuatu yang penting tetapi tidak mereka sukai. Selain itu perlu belajar membuat rencana dengan konsep SMART (Specific, Measurable, Attainable, Realistic, Time Bound) sehingga semua target bisa diselesaikan dalam jangka waktu tertentu, bahkan lebih banyak dari perkiraan semula. Untuk menyelesaikan prioritas, mahasiswa harus banyak memiliki strategi maupun berusaha lebih banyak dengan memunculkan plan A, plan B, serta membuat rewarding time jika suatu tugas selesai agar tercipta ‘work-life balance’.

Catatan dari workshop ini adalah:

a) mitos-mitos tentang studi perlu dibuktikan, karena mitos belum tentu benar

b) buat skala prioritas menggunakan teknik SMART agar cepat lulus dan meminimalisir upaya pengalihan saat menunda-nunda sebuah pekerjaan penting

c) harus banyak strategi dan ikhtiar lebih panjang saat kondisi kurang kondusif

d) jadilah subyek yang mengendalikan keadaan, bukan obyek yang dikendalikan keadaan

e) Utamakan integritas dan values agama serta moral, bukan hanya usaha ilegal supaya mendapatkan nilai terbaik dan cepat lulus.

Sebagai moderator di sesi dosen dan mahasiswa, saya mewakili rekan sejawat sangat mensyukuri terlaksananya kegiatan ini agar perbaikan keadaan dapat dilakukan untuk membantu memperbaiki mindset mahasiswa dan mempercepat kelulusan di Jurusan Teknik Sipil beberapa waktu mendatang. Semoga perbaikan terus-menerus ini akan membuahkan hasil yang gemilang.

Pekanbaru, 16 November 2017

Final Year Project Batch S1 (Bagian 04)

Beberapa orang mengikuti saya di belakang saat kembali ke kantor. Saya tidak mengenal mereka dengan baik tetapi saya yakin mereka ada keperluan tertentu untuk menemui saya.

Ternyata ada lima orang mahasiswa yang ingin melakukan penelitian di lab sebagai tugas akhir mereka. Meski tengah sibuk dengan Batch 02, saya beranikan diri membantu lima mahasiswa yang kelihatannya serius ingin bekerja sama. Batch 03, gabungan lima orang yang sok dewasa, kocak, ngawur dan selalu ceria di manapun berada, menambah warna mahasiswa bimbingan TA. Saya mesti putar otak kadang-kadang mendisiplikan mereka. Melihat hasil kerja yang serius dan semangat yang luar biasa, saya ikutan semangat juga. Memang benar, kita ditentukan oleh teman-teman di sekeliling kita. Selama bersama Batch 03, saya selalu merasa ceria meski kadang marah-marah karena merasa kurang pantas diperlakukan demikian. Hasil penelitian yang luar biasa itu bikin tak bisa marah lebih lama. Hingga hari ini persahabatan kami selalu baik dan Batch 03 tetap ada kapanpun ibu membutuhkan mereka. So sweet.

Semua anggota Batch 03 mendapat kesempatan untuk mempublikasikan hasil penelitian mereka di Seminar Nasional di Padang (Unand) dan Pekanbaru (UIR). Satu orang mahasiswa (Ismi) mendapatkan penghargaan sebagai ‘Best Presenter’ untuk tingkat mahasiswa.

Publikasi Batch 03:

  1. Prasetyo, A., Sitompul, I.R., Djauhari, Z., Ismeddiyanto., & Olivia, M. 2016. Kuat tarik belah dan kuat lentur beton OPC dan PCC menggunakan air gambut sebagai air pencampur. Prosiding the 3rd Andalas Civil Engineering (ACE), National Conference. Padang: Universitas Andalas.
  2. Afrian, M., Djauhari, Z., & Olivia, M. 2016. Ketahanan mortar abu sekam padi pada suhu tinggi. Prosiding the 3rd Andalas Civil Engineering (ACE), National Conference. Padang: Universitas Andalas.
  3. Sianturi, R., Darmayanti, L., Saputra, E., & Olivia, M. 2016. Kuat tekan dan porositas beton OPC dan PCC menggunakan air gambut sebagai air pencampur beton. Prosiding the 3rd Andalas Civil Engineering (ACE), National Conference. Padang: Universitas Andalas.
  4. Rahmayani, I.S., Saputra, E., & Olivia, M. 2017. Kuat tekan dan porositas mortar menggunakan bahan tambah bubuk kulit kerang di air gambut. Prosiding Konferensi Nasional Teknik Sipil dan Perencanaan (KN-TSP) 2017. Pekanbaru: Universitas Islam Riau.
  5. Ednor, M., Sitompul, I.R., & Olivia, M. 2017. Kuat tekan dan perubahan berat mortar menggunakan bahan tambah abu sekam padi (Rice Husk Ash) di air gambut.Prosiding Konferensi Nasional Teknik Sipil dan Perencanaan (KN-TSP) 2017. Pekanbaru: Universitas Islam Riau.

Dosen dan Kegiatan Pengabdian Masyarakat (Catatan dari Monev Flipmas Batobo April 2016)

12991082_1407215415961797_7121658394406674433_n

Tridharma Perguruan Tinggi merupakan trilogi kewajiban yang harus dilakukan oleh institusi. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Pasal 20 Ayat 2) atau Tri Dharma. Oleh karena itu perlu kesadaran bahwa trilogi tersebut tidak berdiri secara mandiri tetapi memiliki keterkaitan erat satu sama lain untuk semua sivitas akademika seperti dosen dan mahasiswa. Pengajaran memiliki tujuan mentransfer pengetahuan dan membuka cakrawala mahasiswa sebenarnya sering diasumsikan sebagai tugas pokok dosen. Padahal kedua kewajiban lain seperti penelitian dan pengabdian masyarakat seharusnya mendapat prioritas sama pentingnya dengan pengajaran. Penelitian bisa dijadikan ujung tombak pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat, karena hasil penelitian dapat mempercepat pengembangan ilmu guna meningkatkan wawasan dosen untuk pengajaran. Hasil penelitian juga dapat membantu perbaikan kesejahteraan dan peningkatan wawasan masyarakat yang masih berada di batas garis kemiskinan dan belum mendapat perhatian khusus dari pemerintah.

Flipmas Batobo Wilayah Riau sejak dibentuk pada tahun 2012 oleh bapak Padil ST., MT, beranggotakan para akademisi dengan berbagai latar belakang institusi. Flipmas Batobo saat ini telah melakukan berbagai kegiatan di bidang Pengabdian Masyarakat seperti di Kawasan Ekonomi Masyarakat di Batu Bersurat, Kampar dan Bantalan, Tembilahan dengan melibatkan masyarakat seperti petani, peternak dan pedagang yang didukung oleh pemerintah setempat.

Pada tanggal 03 April 2016 di Sekretariat Flipmas Batobo Wilayah Riau, dilaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) kinerja Flipmas Batobo. Monev dihadiri oleh para Ketua FI dan FW, dan para profesional pendidik masyarakat (prodikmas). Prof Sundani Nurono Soewandhi (Farmasi ITB) sebagai reviewer Flipmas, memberikan masukan, gagasan dan saran terkait pelaksanaan kegiatan Flipmas Batobo di kedua KEM tersebut.

Kegiatan monev dibuka dengan penjelasan Prof Sundani mengenai ciri khas aktivitas Flipmas yang meliputi a) keikhlasan, b) kebhinekaan, dan kewilayahan. Kegiatan pengabdian yang memiliki dampak besar biasanya tidak hanya bersifat responsif tetapi bersumber dari permasalahan dan kebutuhan masyarakat setempat. Sebab, pengabdian yang berhasil akan tidak hanya mensejahterakan masyarakat tetapi juga membantu mencerdaskan masyarakat. Mengenai kebhinekaan dan kewilayahan, Prof Sundani menekankan keunikan masyarakat Indonesia yang berbasis tradisi dan cenderung mengulangi best practices dari nenek moyang mereka. Apalagi jika di suatu daerah telah terbentuk budaya atau tradisi kuat, maka pola pemberdayaan masyarakat dengan menggunakan kembali prinsip kearifan lokal akan lebih mudah diterima oleh masyarakat yang terkadang karena intervensi budaya lain telah kehilangan jati dirinya.

Program-program yang berbasis kearifan lokal merupakan daya tarik bagi prodikmas saat bekerja dengan masyarakat. Para prodikmas sebagai perwakilan ilmuwan dari perguruan tinggi di masyarakat memiliki kemampuan nalar menelusuri prinsip-prinsip tersebut melalui penelitian, menerjemahkannya secara ilmiah dan memperkuat implementasinya melalui transfer pengetahuan langsung ke masyarakat. Masyarakat yang telah mengetahui prinsip tersebut tetapi selama ini belum mendapatkan dasar teori ilmiah akan terbuka nalarnya sehingga dapat menggunakan wawasan tersebut untuk mendapatkan hasil akhir yang lebih efektif dan efisien. Kerjasama prodikmas dan masyarakat akan membuahkan hasil berupa peningkatan wawasan, peningkatan kesejahteraaan dan penguatan jati diri masyarakat. Tetapi keberhasilan skema pemberdayaan perlu ditunjang dengan pengetahuan mengenai latar belakang masyarakat dan keunikan atau ciri khas daerah pemberdayaan. Jika masyarakat yang tidak memiliki budaya di tempat baru, contohnya masyarakat transmigrasi, maka usaha tersebut akan memerlukan waktu lebih lama daripada masyarakat yang sudah menemukan keunikan dan keunggulan lokal.

Tim dosen Pro Pengabdian Masyarakat yang ingin aktif berkarya dengan membuat skema-skema pemberdayaan masyarakat aktual dan aplikatif perlu bersinergi dengan pemerintah daerah, ketua masyarakat dan pihak industri melalui dana Corporate Society Responsibility (CSR). Para prodikmas tidak dapat bergerak sendiri melainkan harus bersama-sama dalam tim multidisiplin untuk melakukan proses tersebut. Selain memiliki kemauan, semangat dan kompentensi, untuk membuat kegiatan yang berdampak besar pada masyarakat, prodikmas juga harus melibatkan pemahaman tentang culture/budaya masyarakat yang dibinanya. Untuk itu peran sosiologi yang dapat menjembatani prodikmas dengan masyarakat terasa penting dan akan membantu menjembatani dan mengurangi friksi dengan masyarakat majemuk tersebut. Prodikmas juga sebaiknya meningkatkan people skill, atau keahlian untuk berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang dan pendidikan. Beberapa keuntungan yang diperoleh dari melakukan pengabdian kepada masyarakat lewat program kerja yang efektif dan terukur adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat, peningkatan wawasan prodikmas mengenai masyarakat, peningkatan inovasi di bidang penelitian dengan mengambil kasus-kasus aktual yang terjadi di masyarakat, dan perbaikan pola pikir masyarakat serta terciptanya budaya baru di kalangan masyarakat. Hal ini akan menjadikan pengabdian yang dilakukan berhasil, menurut definisi Prof Sundani, yakni tidak hanya mensejahterakan masyarakat, tetapi juga mencerdaskan masyarakat Indonesia.

Acara monev yang penuh inspirasi dan dorongan untuk lebih menyukai membantu masyarakat tersebut berakhir setelah dua jam sesi ceramah dan diskusi oleh Prof Sundani. Diskusi monev ditutup oleh Ketua FI dengan bijak mengutip kisah Einstein tentang manfaat dan sukses, yakni “Orang yang memikirkan sukses belum tentu memberikan manfaat besar bagi lingkungannya. Sedangkan orang yang bermanfaat bagi banyak orang, maka sukses biasanya akan menyertai”.

Pekanbaru,

Written by Monita Olivia

Prodikmas

Post ini sudah dilaunch di http://www.flipmas-batobo.org/2016/04/dosen-dan-kegiatan-pengabdian-kepada.html

Presentasi “Kiat mendapatkan Beasiswa Luar Negeri”

Post ini pernah dimuat di blog pribadi saya: http://lowlymonita.blogspot.co.id/2016/01/berbagi-kiat-mendapatkan-beasiswa-luar.html

Alhamdulillah, minat mahasiswa dan lulusan S1 untuk melanjutkan S2 ke luar negeri saat ini semakin meningkat. Mereka mulai menyadari kalau untuk bersaing di era global akan membutuhkan kompetensi di bidang keahlian dan soft skills seperti kepemimpinan, kemampuan bahasa asing, dan adaptasi dengan berbagai budaya. Disamping itu mereka juga mencari kesempatan untuk memperluas wawasan melalui hidup di negara asing secara mandiri, jalan-jalan gratis dan tentu saja teman-teman berbagai bangsa. Berhubung semua kompetensi dan kesempatan itu mahal harganya dan tidak dapat dibiayai oleh beasiswa ADB (Ayah dan Bunda) saja, maka mereka bersemangat mencoba mendapatkan beasiswa luar negeri dari berbagai negara donor. 

Post ini ditulis sehubungan dengan undangan Kelas Persiapan Beasiswa (KPB) Riau pada Sabtu, 16 Januari 2016.


Kegiatan berbagi informasi kebiasaan belajar di luar negeri, khususnya UK pernah  saya lakukan pada tahun 2002-2003. Pada masa itu, hal yang ditekankan bagi mahasiswa adalah kemandirian, adaptasi dan kerja keras agar dapat lulus tepat waktu. 


Berbagi kiat mendapatkan beasiswa luar negeri baru dimulai pada tahun 2012, saat organisasi mahasiswa (BEM Faperta, BEM Fakultas Teknik, BEM FMIPA) mulai mengundang beberapa dosen senior dan diriku untuk memotivasi mereka studi di luar negeri. Pada tahap ini mahasiswa dikenalkan dengan jenis-jenis beasiswa yang tersedia dan tips belajar bahasa Inggris selama masih studi S1. Kemampuan Bahasa Inggris selalu menjadi ‘tiket’ untuk bisa mendapatkan beasiswa luar negeri, tetapi untuk mendapatkan keahlian tersebut tidak mudah karena harus dibangun bertahun-tahun lamanya.


Pencari beasiswa pada awalnya seperti masuk ke dalam hutan tanpa perencanaan. Banyak yang tidak mengetahui cara mencari informasi beasiswa, jenis beasiswa, tipe beasiswa populer, dan kiat mendapatkannya. Hal yang terpenting menurut peraih beasiswa umumnya (2014) adalah menentukan jenis beasiswa, mendapatkan informasi detil, mempersiapkan persyaratan, mulai mengisi formulir aplikasi, mengontak universitas, mengontak teman-teman baru yang pernah studi di universitas tersebut, mengirim formulir sambil berkejaran dengan tenggat waktu dan melupakan semuanya sampai ada kabar. 


Australia Development Scholarships adalah beasiswa lain yang saya terima pada tahun 2006 untuk studi S3. Sebenarnya saya telah lama berniat menjadi salah satu penerima beasiswa ADS, apalagi setelah bertemu teman-teman penerima beasiswa ADS di IALF Denpasar (1999) yang memiliki kualifikasi dan kemampuan bahasa Inggris di atas rata-rata. Selain itu ada beberapa alasan mengapa saya memilih studi di Australia dan beasiswa ADS. Pertama, beasiswa ADS sangat populer karena memberikan tunjangan penuh, kursus persiapan bahasa Inggris dan studi di Australia, dan memiliki manajemen beasiswa yang bagus. Kedua, riset terkini yang ditawarkan oleh universitas dengan fasilitas lengkap. Ketiga, negara multikultural, multi budaya, tidak jauh dari Indonesia dengan iklim Mediterania, sub tropis, dan tropis dengan gaya hidup, flora dan fauna unik (2014). Keempat, kesempatan untuk melakukan perjalanan heroik guna menemukan jati diri dan mengembangkan kepribadian. Kelima, jalan-jalan dan tinggal sementara di bagian Selatan bumi pasti sangat menyenangkan!

Oh, tentu saja ada banyak masalah saat studi (2015). Tetapi hal tersebut pasti bisa diatasi dengan percaya bahwa semua hal itu baik, telah ditentukan, dan berasal dari Allah SWT. Pada masa sulit kita harus tetap mencari jalan keluar dan tidak takut pada kesulitan yang menghadang di depan. Ada baiknya tetap berusaha dan berjuang tanpa kenal lelah agar semua kesulitan dapat diatasi. Kegigihan, nyali, dan keyakinan kuat bahwa Allah SWT akan memberi jalan keluar dapat mengurangi rasa letih dan putus asa selama proses tersebut.

Pada tahap berikutnya dalam sesi berbagi info studi di luar negeri (2016), saya lebih tertarik membahas prinsip dasar dan strategi untuk mendapatkan sebuah beasiswa, termasuk mengisi formulir dengan teliti! Pertanyaan-pertanyaan yang paling menentukan dalam keberhasilan beasiswa selalu terkait relevansi bidang studi tujuan dengan kompetensi dasar kita, kemudian relevansi bidang studi dengan fokus beasiswa, dan dampak studi lanjut bagi diri dan karir individu maupun masyarakat di Indonesia. 

 

Anyway, untuk bisa sukses mendapatkan beasiswa luar negeri maka perlu serangkaian langkah yang membutuhkan kerja keras tidak mengenal lelah dalam waktu tertentu. Keberhasilan mendapatkan beasiswa adalah satu hal, sedangkan berhasil menjalankannya saat studi lanjut adalah masalah berbeda. Untuk tahap ini, fokus dulu pada mendapatkan beasiswa, lalu pikirkan langkah selanjutnya untuk studi dengan sukses di luar negeri. 

Selamat berusaha, dan jangan lupa berbagi informasi cara mendapatkannya di kemudian hari.

Pekanbaru,

Creating Content and Sharing Insight

Sedikit review tahun-tahun berjalan sejak kembali dari sekolah di Australia,

tahun 2012: tahun administration (merapikan arsip, mengumpulkan data, menyusun database)

tahun 2013: tahun traveling (mengunjungi hubby, keluarga dan teman di luar negeri)

tahun 2014: tahun internationalization and networking (mengerjakan project internasionalisasi dan bertemu banyak teman maupun orang-orang penting dari empat benua)

tahun 2015: tahun creating content and sharing insight (mengumpulkan ide dan berbagi pandangan di mana-mana)


tahun 2016: barangkali akan jadi tahun yang… (tergantung aktivitas tahun ini, barangkali temanya ‘community service’)


Awal tahun baru ini saya belajar terminologi baru ‘creating content dan sharing insight’, meskipun tahun 2015 lalu sudah dilakukan sambil berlari di berbagai tempat. Pada tahun 2015, kesempatan untuk berbagi ilmu tidak hanya di bidang penelitian melalui konferensi, tetapi juga bidang green building materials, penulisan ilmiah, kreativitas mahasiswa, motivasi, kepemimpinan di era MEA, gender equality, studi S3 di Australia, dan kuliah umum mengenai material konstruksi di tanah gambut sewaktu mengunjungi University of Yamaguchi, Jepang.

Term tersebut, creating content and sharing insight (mengumpulkan ide dan berbagi pandangan), seperti yang ditulis oleh Dorie Clark di hbr.org dalam post ‘How Can I Ensure I’m More Valuable at the End of the Year than I was at the Beginning’, menjadi bagian dari Professional Development Activity (Kegiatan Pengembangan Profesional) dalam hidup dan karir seseorang. Maksudnya, ‘creating content’ adalah menuliskan ide/ilmu untuk mengkristalisasi pengetahuan dalam bentuk yang lebih mudah dipahami dan mengikat orang lain, sedangkan ‘sharing insight’ berarti membentuk personal brand (imej pribadi) dengan cara berbagi ilmu dengan publik/komunitas. Keuntungan yang diperoleh adalah pemahaman mendalam tentang bidang keahlian dan mendapatkan pengakuan publik mengenai keahlian kita. 

Agar bisa ‘creating content dan sharing insight’ dengan baik, tentulah kita perlu memperluas ilmu dan wawasan mengenai sebuah topik. Pengalaman presentasi dan belajar internasionalisasi selama ini di KUI, di Jerman, presentasi materi untuk mahasiswa di kampus maupun presentasi penelitian di konferensi internasional telah membantu dengan cepat untuk menyusun content yang tepat untuk setiap event. Selain itu, berbagi pandangan berdasarkan pengalaman pribadi biasanya lebih enak diikuti dan membekas di dalam hati audiens.


Untuk memulai tahun 2016, Bismillahirrahmanirrahim, telah ada undangan berbagi ilmu mengenai beasiswa luar negeri dan sekolah di luar negeri oleh komunitas anak muda lokal yang mencari beasiswa. Mudah-mudahan tema tahun ini, community service bisa dijalankan dengan baik. Semangat.


Pekanbaru, 

beautiful 2016 is waiting

Presentasi ‘Green Building Materials’ di Seminar LPJK dan IAI Riau

23 April 2015

Konsep ‘green’ pada bangunan diartikan memenuhi kriteria efisiensi sumber daya, efisiensi energi, konservasi air, kualitas udara dalam ruangan dan terjangkau. Berdasarkan definisi dari Green Building Council Indonesia (2011), ‘green building’ merupakan bangunan yang menggunakan energi, air dan sumber daya lain secara efisien, melindungi kesehatan dan meningkatkan produktivitas penghuni, serta mengurangi limbah, polusi serta degradasi lingkungan.  Untuk bangunan-bangunan masa kini, konsep ‘green’ menjadi salah satu indikator keberhasilan dalam mendukung pembangunan yang ramah lingkungan dan menggunakan sumber daya secara efisien pada industri konstruksi.

Suatu bangunan disebut ‘green’, bukan berarti memiliki cat luar hijau, tetapi memenuhi kriteria rating dari beberapa institusi. Sebagai contoh, Green Building Council Indonesia menggunakan ‘Greenship Rating’ untuk mengevaluasi bangunan yang mengusung konsep ‘green’. Berbagai kriteria dijabarkan dalam Greenship Rating Criteria meliputi tepat guna lahan, efisiensi dan konservasi energi, konservasi air, sumber dan siklus material, kesehatan dan kenyamanan dalam ruangan dan manajemen lingkungan bangunan.

Pada presentasi mengenai ‘Green Building Materials’, saya menjelaskan tentang kriteria ‘Sumber dan Siklus Material’ (Material Resources and Cycle- MCR). Pada kriteria ini terdapat berbagai item yang dinilai seperti penggunaan material bekas bangunan lama untuk mengurangi limbah, material hasil proses daur ulang, material dari sumber daya terbarukan dengan masa panen <10 tahun, menggunakan kayu bersertifikat, efisien dalam penggunaan material dan minim sampah, serta dapat diperoleh secara lokal. Contoh2 material yang dijelaskan adalah brick masonry, lightweight steel, recycle aluminium, glue laminated timber dan beton menggunakan limbah industri sepereti geopolimer.

Studi kasus yang dipaparkan ada dua bangunan, yakni a) Green Star Five Star The Curtin Engineering Paviliun, Perth, Australia bernilai AUD 13 juta. Bangunan ini menggunakan efficient lighting system, solar panel, rooftop water tanks, exposed timber beams dan menghemat 32% air/tahun, serta 42% energi/tahun dari bangunan biasa. Studi kasus kedua b) yakni Masdar City, Abu Dhabi, UEA, yang menggunakan bangunan tradisional, 90% recycle aluminium, low carbon concrete, sustainably timber source. Gedung Siemens di Masdar City mendapat rating LEED Platinum dan dapat menghemat 50% energi dari bangunan biasa.

Pekanbaru,

Presentasi Project DIES-UNILEAD DAAD

Maret 2015

Setelah bekerja keras menyelesaikan project untuk workshop UNILEAD, saya dan teman-teman diundang kembali ke Universitat Oldenburg, Jerman, untuk mempresentasikan project tersebut pada Maret 2015.

Pada saat itu saya masih bekerja sebagai Deputi Manager bidang Eksternal di Kantor Urusan Internasional, Universitas Riau (2012-2015). Project yang saya kerjakan, “Development of a Strategic Planning Document for Internationalisation of Universitas Riau 2015-2019” diselesaikan dalam waktu 4 bulan (Oktober-Januari) dengan melibatkan lebih dari 50 stakeholders yang terdiri dari pimpinan eksekutif, kepala unit, ketua program studi/jurusan, guru besar, dan dosen. Strategic Planning Document (Renstra) tersebut dikembangkan dengan mengacu pada Visi dan Misi Universitas, Statuta dan Peraturan Menteri mengenai internasionalisasi universitas. Untuk mengerjakan dokumen tersebut, saya banyak dibantu oleh para pimpinan dan guru besar di Univ Riau dengan memperhatikan trend perkembangan internasionalisasi di universitas besar dan menengah di Indonesia. Selain itu dikembangkan juga dokumen “Student Exchange and Summer Program” bagi prodi/jurusan yang ingin membuka program tersebut.

Pelaksanaan presentasi dibagi menjadi 2 grup. Prof Frank Fischer, dosen Project Management, menyampaikan aturan untuk presentasi, yakni tidak boleh membuka laptop dan handphone, dan kami diminta untuk memberikan apresiasi, respek, berkonsentrasi dan feedback bagi presenter.

Project yang dilaksanakan oleh teman-teman peserta UNILEAD lain disesuaikan dengan bidang kerja dan tuntutan perkembangan di universitas masing-masing. Beberapa orang mengambil isu terkini di perguruan tinggi dunia seperti internasionalisasi, jaminan mutu dan e-learning. Peserta lain memilih program-program pengembangan untuk infrastruktur, SDM, gender, dan special program untuk Engineer.

Saya mendapat kesempatan pertama untuk presentasi di Grup 2. Hal-hal yang disampaikan adalah teknis pelaksanaan project, kendala yang dihadapi dan lesson learned dari project tersebut.

Tim kami mendapat aplaus meriah setelah memperlihatkan dua produk project ini yakni dokumen Renstra dan panduan pelaksanaan Student Exchange Summer Program. Disamping itu saya mendapat tawaran menulis paper secara kolaborasi dengan staf di kampus Oldenburg mengenai perkembangan internasionalisasi Universitas Riau.

Aktivitas ini menjadi salah satu milestone dalam pengembangan kapasitas diri dalam mengerjakan project dengan skala tingkat universitas yang melibatkan banyak unsur stakeholder pada waktu relatif singkat.

Pekanbaru,

Strategi untuk PhD Study

Tahun-tahun awal studi yang penuh ‘uncertainty’ menimbulkan banyak pertanyaan. Pada akhirnya ada beberapa pertanyaan yang muncul di awal studi PhD tentang strategi, seperti:

“Apakah cara terbaik yang pernah ada untuk menyelesaikan PhD study ini?”

“Keahlian apa saja yang harus saya miliki supaya studi berjalan lancar dan memberikan hasil yang baik?”

“Sistem organisasi informasi/pekerjaan/waktu atau sistem alokasi sumber daya seperti apa yang harus saya aplikasikan?”

Berbagai pertanyaan yang saya ajukan selama studi tersebut tidak mudah dijawab, kecuali ditemukan sendiri. Saya mungkin bisa menggunakan metode supervisor saya, atau supervisor teman atau teman sendiri, tetapi saya menyadari bahwa diri dan ‘nature of research’ tiap orang itu berbeda-beda. Kalau mau sukses melewati tahap ini, maka saya harus menemukan apa yang saya cari dan punya strategi sendiri untuk mengatasinya.

Untuk menjawab pertanyaan pertama di awal post tadi, saya memiliki jawaban seperti ini: “Style terbaik untuk PhD tergantung dari nature research dan personality. Kenali riset kita, dan cocokkan dengan personality. Misalnya seseorang yang introvert sulit meminta bantuan orang lain, padahal mereka membutuhkan bantuan banyak teknisi dalam melakukan persiapan eksperimen. Si introvert tadi harus belajar bersosialisasi dan mengutarakan permintaan bantuan teknis secara langsung dengan teknisi tanpa melewati supervisor.”

Untuk pertanyaan kedua: sudah saya jawab pada poin e) pada post sebelumnya.

Pertanyaan ketiga bisa dijawab seperti ini:

Untuk pengelolaan waktu, kita harus punya timetable dalam bekerja. Buat timetable besar untuk empat tahun, lalu timetable untuk tiap tahun. Dalam timetable tersebut, kita alokasikan waktu untuk eksperimen, untuk konferensi, untuk publikasi, maupun untuk laporan kemajuan bagi universitas asal, universitas tempat studi maupun sponsor.

Untuk pengelolaan sistem informasi, siapkan sistem back up di hard disk, lalu sinkronisasi komputer kampus dengan laptop pribadi secara berkala. Saya juga memanfaatkan beberapa flashdisk untuk riset, belajar, etc. untuk menghindari overlapping data. Data-data ditulis di log book lalu setelah rapi diprint untuk menghindari kehilangan data. Penggunaan log book dan buku timetable disarankan oleh Dr Wibirama di link berikut.

Alokasi resources/sumber daya sendiri untuk riset ternyata cukup rumit. Saya sering mengalami penundaan karena terlambat memesan bahan baku atau mencarinya. Hal-hal seperti ini perlu diantisipasi jauh-jauh hari dan didiskusikan dengan pengelola lab. Alamat supplier dan harga bahan perlu dikumpulkan kalau kita harus mengorder sendiri. Jika perlu, kita selalu siap dengan stock khusus untuk penelitian untuk menghindari keterlambatan dalam pengambilan data.

Pekanbaru,

Self-Help Books for PhD Study

Saat menjadi mahasiswa tingkat doktoral (atau bahasa kerennya: PhD student), saya dituntut untuk banyak membaca literatur dari bidang keahlian yang dipilih. Alhasil, bukan cuma list bacaan tentang riset saja meningkat, tetapi juga hasil cetak artikelnya juga menumpuk di meja belajar. Tetapi semua bacaan tersebut tidak banyak membantu saya memikirkan penyelesaian PhD secara praktis. Masih banyak yang harus diketahui tentang cara menyelesaikannya.

Pada awalnya saya suka mewawancara teman, staf atau supevisor. Kadang saya setuju dengan arahan mereka, tetapi dasar suka kepengen kreatif, kadang saya ingin memodifikasi cara-cara yang mereka sampaikan sehingga cocok dengan pekerjaan saya. Kadang berhasil, kadang tidak berhasil, sehingga saya memerlukan seseorang/sesuatu untuk menerangkan hal-hal terkait pelaksanaan studi secara ideal.

Suatu hari saat sedang shelving buku (part time job, oh part time job!), saya menemukan deretan buku-buku self-help untuk studi PhD, seperti How to Get a PhD, The Unwritten Rules of PhD Research, Doctorates DownUnder maupun Survival Skills for Scientists. Buku-buku tersebut terdapat dalam versi digital seperti di bookfi.org, etc.

Beberapa poin penting dari buku-buku tersebut yang bisa saya sarikan adalah:

a) Proses penyelesaikan PhD perlu melibatkan aspek psikologi seperti mampu mempertahankan sikap antusias, bisa bekerja secara terisolasi, mandiri tidak tergantung supervisor, dapat mengatasi kebosanan dan rasa frustasi jika ada yang tidak bisa diselesaikan. Kita selalu memerlukan semacam ‘reservoir’ semangat dan hobby supaya tidak mudah stress atau menyerah!

b) PhD adalah studi individual, tetapi bisa mendapat support dari teman-teman yang melakukan PhD. Setiap orang yang pernah mengerjakan PhD, pasti memahami sekali kerumitan dan kepayahan proses studi tersebut. Mereka pasti selalu bersedia memberikan tips, saran, melaksanakan pertemuan, memberikan waktu untuk diskusi, supaya ‘teman’ yang sedang PhD bisa melewati proses tersebut dengan sukses.

c) Hubungan student-supervisor selalu sangat mendominasi pekerjaan riset. ‘Approval’ dari supervisor bermakna sekali dalam tiap pekerjaan. Sebab itu kita disarankan untuk pintar mengelola hubungan ini supaya langgeng, bahkan kalau perlu jauh setelah studi selesai. Supervisor umumnya menyukai mahasiswa penuh inisiatif, punya rencana, tidak gampang menyerah/mengeluh, suka menulis artikel untuk publikasi dan open-minded. Saran terbaik untuk saya yang pernah ada adalah ‘ikuti kata supervisor’ dan ‘jangan menghilangkan rasa antusiasme supervisor kepada kita, si PhD student’. Nah, dari dua tips itu saja, kita semestinya harus tahu jadi seperti apa.

d) Memahami kalau beban wanita/pria dalam proses melaksanakan studi PhD sangat berbeda. Kadang-kadang kita wanita harus rela/berbesar hati mengurangi waktu kumpul-kumpul dengan sesama anggota grup riset karena waktu untuk keluarga saja sudah sulit. Memasak, mencuci, membersihkan rumah, mengurus anak, mengurus administrasi/birokrasi adalah tugas-tugas tambahan yang perlu dimasukkan dalam jadwal riset. Bisa menulis beberapa judul artikel dan tidak berangkat konferensi adalah salah satu pengorbanan bagi wanita. Banyak hal yang tidak perlu diikuti jika bukan masuk dalam prioritas studi PhD.

e) Selalu siap untuk menambah keahlian-keahlian baru, seperti organisasi artikel dalam folder, manajemen waktu, software untuk memproses data, pengoperasian alat-alat canggih, metodologi riset, penulisan paper untuk jurnal berimpact factor besar, cross-culture, public speaking, mengajar mahasiswa asing, maupun cara berbicara pada tamu dari industri yang ingin mengetahui riset kita di laboratorium. Semua ini memerlukan keinginan dan antusiasme serta sikap terbuka supaya tidak terdoktrin bahwa PhD student hanya perlu tahu tentang risetnya saja. Semua pengalaman yang tidak bisa dibeli tersebut sebenarnya sangat berguna tidak hanya pada saat PhD saja, tetapi ketika kita berada di dunia kerja.

Pekanbaru,

Fitur ‘Google Scholar Citations’

Untuk meningkatkan indeks sitasi publikasi peneliti, fitur gratis dari Google Scholar dapat dimanfaatkan. Fungsi fitur tersebut adalah mengumpulkan artikel ilmiah yang pernah dibuat dan diluncurkan secara online oleh beberapa sumber (misalnya repository universitas), membuatkan laman profil peneliti, dan menginformasikan jumlah sitasi per artikel selama kurun waktu tertentu.

Cara mengesetnya sangat mudah:

a) Buat akun google (gmail)

b) Masuk ke googlescholar (scholar.google.com)

c) Klik ‘My Citations’ di bagian atas laman

d) Masuk ke akun.

e) Set ‘Profile’. Masukkan nama, afiliasi, email resmi dan bidang riset

f) Klik ‘Next Step’ dan laman berikut akan terlihat. Untuk menambahkan artikel secara manual, gunakan ‘Add Articles’. Sedangkan untuk mengambil artikel yang tersedia secara online, klik ‘add at articles’ di bagian ‘Article groups’.

g) Artikel telah ditemukan GoogleScholar. Just klik ‘Next’.

h) Profil kita di My Citations GoogleScholar telah selesai diset.

<berhubung dari beberapa minggu lalu hingga kini sangat sulit mengupload picture di blog ini, maka link berikut bisa dirujuk untuk melihat hasil akhir:>

http://scholar.google.com/citations?user=USlDDlEAAAAJ

 

Peneliti dapat melihat h-index dan i-index (pengukuran sitasi) dalam jangka waktu tertentu. Disamping mendapatkan informasi jumlah sitasi baru, peneliti juga dapat melihat peneliti mana/judul artikel yang mensitasi melalui fitur ‘cited by’.

Untuk meningkatkan indeks sitasi, masukkan artikel ke repository universitas, maupun jejaring sosial akademik seperti Academia.edu, ResearchGate dan Mendeley.

Pekanbaru,