Re-post: Deskripsi Diri

Belum dibuat saja, rekan-rekan kerja sudah ramai mengingatkan supaya, “jangan menyontek Deskripsi Diri orang lain”.  Saya jadi semakin tergelitik ingin mengetahui seperti apa DD, atau Deskripsi Diri yang harus dikumpulkan sebagai bagian dari Portfolio Dosen Yang diSertifikasi tersebut.

Saat mengerjakannya, barulah saya mengerti mengapa mereka getol mengingatkan soal ‘copas’ DD tadi. Ternyata, sulit juga membuatnya, apalagi kalau kita tidak biasa berkontemplasi soal pekerjaan dan karir selama ini. Soalnya, kita lebih sering berkontemplasi mengenai kepribadian dan keuangan ketimbang pekerjaan. Bagi kita, pekerjaan tak lebih ‘kerja supaya dapat uang’, sehingga agak susah meluangkan waktu untuk mengevaluasi usaha kita dalam bekerja.

DD memang sangat berguna untuk mengekslor rekam jejak seseorang sedetil-detilnya. Pertanyaan-pertanyaannya ringkas saja mengenai pembelajaran, riset, pengabdian, pengelolaan institusi dan mahasiswa. Tetapi semua aspek pekerjaan yang dilakukan sehari-hari sudah terwakili di sana. Jika jejak rekam kita tak cukup baik di satu bidang, maka kita akan ngos-ngosan menuliskan esai yang tak boleh kurang dari 150 kata. Lain halnya kalau kita melakukan sebuah aspek pekerjaan dengan baik, maka 150 kata akan terasa sangat kurang karena saya pernah kebablasan menulis sampai 950 kata.

Menurutku, disinilah DD berfungsi sebagai alat pengontrol atau alat muhasabah diri dalam bekerja. Mestinya DD dosen dibuat setiap tahun, bukan sekali saja untuk kegiatan sertifikasi ini. Pasalnya, setelah membuat DD, saya baru menyadari belum melakukan beberapa aspek pekerjaan dengan benar. Ada hal-hal yang dipelajari secara otodidak, mengikuti contoh dari rekan, mendengarkan instruksi atasan, dan berprinsip ‘biar cepat asal selamat’ saja ketimbang mengikuti aturan yang benar. Lewat DD itulah, saya terkesima melihat rekam jejak yang memiliki banyak ketimpangan di berbagai aspek pekerjaan. Sudah jelas hal ini tak bisa dibiarkan. Saya harus memperbaiki DD di masa mendatang, walau tidak diminta secara formal.

Saran saya, DD harus dibuat jauh-jauh hari, minimal sebulan sebelum pengumpulan online. Pembuatannya harus didasarkan pada CV dengan format yang ada di buku ii Pedoman Serdos (dapat diunduh di www.serdos.dikti.go.id). Jika kita punya cukup waktu untuk berkontemplasi, maka DD yang otentik bisa dihasilkan. Permasalahannya, kita sering menunda-nunda pekerjaan penting ini. Saat detik-detik batas waktu pengumpulan menghampiri, dalam situasi tertekan, otak semakin sulit mengingat diri kita. Sebab itu orang menyontek DD milik rekannya walaupun yang diceritakan bukan dirinya sendiri. Lucu!

Kita tak bisa mencontek DD orang lain, selain hal itu ilegal, juga tidak mencerminkan diri sendiri secara jujur. Sehingga ada baiknya tidak membaca DD orang sebelum dibuat untuk menjaga obyektifitas. Meski kita pernah membacanya, kita toh akan kesulitan mengimitasi orang lain. Pasalnya, tiap orang punya pengalaman, prinsip dan kekhasan gaya dalam bercerita tentang dirinya. Asesor yang berpengalaman tentu dapat mengidentifikasi konsistensi gaya menulis seseorang. Lagipula, apa enaknya menyontek DD orang, jika kita bisa membuat DD sendiri yang lebih mantap dan punya kekhasan diri. Seharusnya kita malu untuk menempuh jalan ‘biar cepat asal selamat’ itu, kalau kita sering mengingatkan mahasiswa untuk tidak bertindak demikian.

Pekanbaru,

Tak perlu menunggu inspirasi

Aku memikirkan kata-kata Remy Silado dalam Kompas Minggu, 22 Juli 2012, berikut,

“inspirasi itu diperintah, bukan ditunggu. Kalau menunggu inspirasi, keburu jatuh miskin, haha… Motivasinya harus bekerja. Inspirasi itu cerita tahun 1950-an. Bahan sudah kita lihat dan kita simpat dalam daya kreatif. Sewaktu-waktu perlu kita panggil. Jadi kita perintah, bukan ditunggu”.

Beliau benar.

Menulis itu memang sebuah disiplin, tidak melulu karena dorongan inspirasi. Dan, inspirasi itu datangnya dari pengetahuan yang telah kita kumpulkan berdasarkan bacaan, pengalaman dan pemikiran. Jadi, untuk bisa menulis dengan baik, kita harus banyak-banyak mengumpulkan informasi sehingga terjadi proses kreatif dalam otak kita. Proses tersebut telah pernah saya jabarkan di link berikut ini.

Lebih lanjut lagi, para jurnalis dan penulis ahli menyarankan kita untuk menyimpan inspirasi yang datangnya sering tak diundang. Seringkali inspirasi tiba saat kita sedang berinteraksi atau mengalami sesuatu dalam kondisi tak bertemu laptop. Buku inspirasi bisa menjadi solusinya. Daripada kebingungan mencari inspirasi saat menulis, maka ‘tabungan’ topik inspirasi tadi bisa diutak-atik.

Mengembangkan inspirasi seperti sudah menyelesaikan 25% pekerjaan menulis. Sisanya, tinggal ‘memaksa’ diri untuk terus menuliskannya.

Pekanbaru,