Menjadi Reviewer Jurnal

Salah satu pekerjaan yang cukup menantang sisi keilmuan saya adalah menjadi reviewer untuk jurnal.

Sebagai seorang reviewer, kita harus independen dan tidak terbawa emosi dalam mengevaluasi sebuah riset. Ada kalanya kita harus sabar dan pelan-pelan memahami maksud author dalam mengungkapkan hasil risetnya. Terkadang author terlalu bertele-tele di satu sisi, tetapi di sisi lain terlalu ringkas sehingga maksud penulisan tidak terbaca dengan jelas.

Kadang-kadang kita menemukan ‘missing link’ dalam sebuah penulisan. Saya cenderung memberikan masukan untuk struktur artikel agar ‘flow’ penulisan terjaga dan artikel enak diikuti. Kita harus terus menilai sisi koherensi sebuah artikel dengan obyektif sehingga tidak memiliki praduga awal. Kemudian kita bisa memberi masukan kepada author bagaimana cara agar mereka fokus dan semua teori maupun fakta bisa diliput dalam artikel tersebut.

Di samping itu, data mestilah robust. Untuk menilai sebuah artikel sukses atau tidak, bukan sekadar data dengan penyajian rumit, tetapi data dapat dibaca, dimengerti dan meyakinkan. Terkadang kita harus kembali mengecek metodologi apakah pengambilan data sudah mengikuti prosedur yang benar. Jika ada modifikasi, bagian mana yang dimodif dan apa akibatnya terhadap data.

Format penulisan juga perlu dicocokkan dengan style jurnal target. Author sering mengabaikan hal ini demi mengumpulkan artikel sesuai tenggat waktu mereka. Jika mayor, maka author diminta mengikuti format dengan strict. Jika evaluasinya minor, maka hal-hal kecil seperti salah tanda, typo, tidak perlu dicek semua, hanya berikan contoh dan minta author mengubahnya supaya konsisten dan seragam.

Secara bertahap kita bisa menguji argumen penulis dengan data dan teori yang disajikan. Bagian inilah yang tersulit dalam mereview sebuah artikel. Apakah dengan asumsi awal, metode, data, dan pembahasan, maka didapatkan benang merah tulisan, dan dapat dirangkum dengan baik dalam kesimpulan?  Jika tergambar dengan baik dan kekuatan argumen tinggi dibuktikan dengan fakta hasil penulisan, maka artikel dapat direkomendasikan untuk diterbitkan.

Artikel seperti apa yang pernah saya tolak? Pertama, flow tulisan sulit diikuti. Kedua, data yang disajikan tidak lengkap dan kurang robust. Ketiga, tidak ada benang merah antara masalah, metode, hasil dan kesimpulan.

Bagaimana dengan masukan kita, apakah didengarkan Chief in Editor? Sekitar 90-95% artikel yang saya review, memang diterbitkan dalam jurnal. Ada artikel yang direkomendasikan ditolak, memang ditolak. Tetapi kecil dari 5% artikel yang saya tolak, tetap direkomendasikan untuk diterbitkan. Nah, di sini saya sering mengevaluasi apakah saat mereview saya kurang independen atau kualitas riset outperfomed teknik penulisan. Bagian ini cukup challenging, sehingga harus sering mempelajari style artikel dari sebuah jurnal dan mengikuti kebaruan di bidang riset tertentu.

Mendampingi Mahasiswa ke PIMNAS 31 UNY Yogyakarta

Pada tahun 2006, salah satu tim mahasiswa bimbingan saya berhasil mewakili Universitas Riau ke PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) ke 19 di Malang. Penelitian mengenai serbuk kaca untuk mortar tersebut dipresentasikan ketiga mahasiswa tanpa pendampingan saya yang sedang mempersiapkan diri untuk S3 di Curtin University, Perth.

Alhamdulillah, pada tahun 2018, sekitar 12 tahun kemudian, saya mendapatkan kehormatan mendampingi 2 tim mahasiswa ke ajang bergengsi tersebut. Kedua tim berasal dari tim besar terdiri dari 18 orang berikut. Beritanya dapat dilihat pada link berikutSatu tim yang terdiri dari 5 orang, yakni Miguel Felix Wijaya (ketua), Maharani Miranda, Harpian Surya, Ramadhan Yanuari dan Niko Rizaldi telah melaksanakan kegiatan PKMM (pengabdian kepada masyarakat). Sedangkan tim kedua, Habib Abdurrahman (ketua), Mia Qoryati dan Muklisin telah melaksanakan PKMP (penelitian). Tim PKMM mengangkat tema eco-friendly gabion untuk mengatasi erosi tebing, dan tim PKMP meneliti penggunaan serat karet dan abu sekam untuk material perkerasan kaku di tanah gambut seperti terlihat pada poster berikut.

Kedua tim sama kuat dan sama-sama berprestasi sehingga mendapatkan kesempatan membimbing dan mengantarkan mereka ke PIMNAS 31 di Yogyakarta, it was just like ‘an old dream come true’. Akhirnya saya bisa mendampingi tim langsung dan mengalami sendiri PIMNAS yang penuh dengan inovasi, kreasi dan kompetisi. Berita lengkap tim yang akan berangkat ke Yogyakarta pada 28 Agustus hingga 2 September 2018 dapat dilihat pada link ini.

Saat kunjungan ke kelas-kelas untuk mengamati presentasi dari tim-tim mahasiswa berbagai universitas lain, saya merasa bersyukur sekali karena bisa melihat langsung keunggulan tim, persiapan kegiatan dan level inovasi mereka. Persaingan pada di PIMNAS sudah berupa kompetisi inovasi, bukan semata keberhasilan penyelesaian program saja. Tim mahasiswa harus siap mental menghadapi pertanyaan, keraguan dan cercaan dari juri. Proses sulit ini benar-benar baik untuk membantu mahasiswa agar lebih kritis dan asertif dalam berkarya. Sebagai dosen pendamping, saya senang karena mahasiswa bimbingan saya bisa mendapatkan masukan mengenai keunggulan dan kelemahan kegiatan PKM mereka. Apalagi bisa masuk ke tahap ini  mereka sudah mengalami transformasi mentality dan mind set dalam berusaha. Moga semakin sukses dalam tiap kegiatan yang diikuti di kemudian hari.

Setelah presentasi, kami berbagi tugas untuk mengamati kelas PKMM dan PKMP serta mempelajari pertanyaan-pertanyaan juri agar kegiatan yang dilaksanakan pada masa mendatang bisa lebih baik lagi. Kesuksesan di PIMNAS tidak hanya pelaksanaan, tetapi eksekusi, kekompakan dan paling penting inovasi untuk menyelesaikan masalah masyarakat.

Beberapa tips agar tim PKM mahasiswa dapat diundang ke PIMNAS:

  • Topik proposal yang inovatif, kebaruan tinggi, menyelesaikan masalah kritis, dan bersifat kedaerahan
  • Buat a winning proposal. Proposal ditulis mengikuti kaidah penulisan ilmiah, bahasa Indonesia baik, dilengkapi dengan literatur terbaru, dan metodologi runut serta terukur
  • Pada monev internal pertama, usahakan progress pekerjaan lebih dari 50%.  Dalam monev internal berikutnya, sebaiknya progress sudah lebih dari 90%

  • Untuk monev eksternal dengan reviewer dari Dikti, pekerjaan PKM sudah selesai 100%, sudah ada luaran (seperti artikel di jurnal atau konferensi (PKMP, jangan diduplikasi artikelnya), surat pengajuan paten (PKMP), buku TTG (PKMM), surat keterangan keberlanjutan program (PKMM), produk atau surat pengajuan paten (PKMKC dan PKMT), serta produk dan bukti-bukti penjualan (PKMK)
  • Persiapkan laporan akhir, poster, dan slide presentasi yang lengkap dan baik. Penuhi kaidah penulisan ilmiah untuk laporan, poster dan slide presentasi karena pemenang medali ditentukan pada tahap ini
  • Lakukan yang terbaik dan ambil pelajaran dari pengalaman mengikuti PIMNAS tersebut. Anda akan banyak diundang berbagi tips-tips kepada adik-adik angkatan setelah kembali dari PIMNAS.

Semoga yang terbaik akan diundang ke PIMNAS 32, ya.

Memaknai Tema Tahunan dalam Karir Akademik

Sejak tahun 2012, saya mulai merefleksikan mayoritas kegiatan-kegiatan dan pengembangan diri yang dilakukan pada tahun tersebut menjadi sebuah tema tahunan. Merujuk pada post sebelumnya di tahun 2016, ada beberapa tema tahunan, yakni:

Tahun 2012 = tahun data base (mengupdate, mengumpulkan, dan mereview data serta kinerja)

Tahun 2013 = tahun traveling (ke beberapa negara)

Tahun 2014 = tahun internationalization dan networking (highlight: Unilead Germany dan Alumni Reference Group Australia Awards in Indonesia)

Tahun 2015 = tahun creating content and sharing insight (belajar jadi narasumber, public lecture, conference)

Tahun 2016 = tahun community service (highlight: flipmas Batobo)

Pada tahun ini Allah mengundang saya mengasah skill-skill lain.

Tahun 2017 = tahun mentor, auditor, examiner and reviewer (internal Unri dan external Unri, ISO 9001:2015, Australia Global Alumni).

Tema tahun 2017 ini memiliki pesan amat mendalam selain amanah besar untuk memberikan pertimbangan atau rekomendasi tepat sasaran dan bermanfaat melalui evaluasi dan pertimbangan cermat mengenai kapabilitas seseorang. Menjadi seorang mentor, examiner dan reviewer juga berarti membantu orang lain agar dapat berkontribusi bagi perubahan dan pengembangan di berbagai bidang di Indonesia. Apa yang menjadi keputusan bersama akan dapat mengubah banyak hal dari diri dan orang di sekeliling pelamar sendiri.

Pelajarannya dari kegiatan ini adalah: be humble, treat everybody equal because they’re potential candidates, speak from your heart, and share your knowledge on how to improve their abilities.

Tema tahun ini juga memerlukan networking, manajemen waktu terbaik, daya juang, daya tahan, semangat, integritas, ketajaman berpikir, bisa memberi feedback dengan fair, dan bersikap etis. Thinking outside the box, pengamatan dan mau keluar dari comfort zone. Banyak membaca, rajin diskusi dan mengikuti perkembangan terbaru di bidang ilmu. Harus berani masuk ke situasi-situasi yang tidak familiar lalu menghadapinya dengan profesional tanpa banyak mengeluh. Harus bisa juga membuat keputusan-keputusan kritis berdasarkan fakta, pengalaman dan jam terbang dan merekomendasikan sesuatu yang dampaknya besar dalam jangka panjang serta memiliki multiplier effect di masyarakat. Easy to say, but difficult to imply it.

Tanpa disadari lama-lama saya lebih lincah memberi feedback dan mampu memandang dari berbagai angle kepentingan untuk membuat keputusan.

Alhamdulillah. Moga tema kegiatan tahun berikutnya lebih seru lagi.

Belajar menjadi Auditor Internal ISO 9001:2015

Bulan ini saya mendapat pengalaman mengaudit kinerja sebuah lembaga di Universitas Riau. It’s a new experience, dan sejalan dengan professional development yang saya lakukan pada tahun ini.

Melalui pelatihan dari konsultan profesional di bidang ini, kami berlima dan semua staf diberi kesempatan memahami konsep ISO 9001:2015 pada Oktober 2017 lalu. Setelah itu kami melakukan praktek audit dan mulai mengaudit kinerja beberapa bidang di lembaga tersebut tiga bulan kemudian.

Definisi ISO 9001:2015 adalah akreditasi atau sertifikasi sistem manajemen mutu berorientasi pada kepuasan pelanggan. Sertifikasi diberikan sebagai jaminan bahwa sebuah perusahaan, instansi atau institusi sudah memberikan produk jasa bermutu.

Audit internal berguna untuk mempersiapkan audit eksternal dan menemukan ketidaksesuaian agar organisasi lebih rapi dan terarah. Untuk melaksanakan audit internal perlu mengetahui cara kerja dan kriteria keberhasilan sebuah prosedur.

Saya masih perlu meningkatkan keahlian melalui jam terbang tinggi agar bisa jadi auditor yang efisien, cekatan, sistematik, dan mandiri. Seingat saya, kami pernah belajar konsep audit vs akreditasi dalam training UNILEAD 2015. Audit sangat diperlukan untuk membantu efektivitas dan efisiensi sebuah sistem manajemen agar memenuhi standar mutu pelayanan.

Akhir tahun ini saya juga akan mengaudit diri sendiri agar sesuai dengan standar prosedur pekerjaan sebagai dosen, peneliti dan profesional. Moga layak juga dapat sertifikat ISO. Hihi.

Pekanbaru,

Berpartisipasi dalam Alumni Professional Development Program (APDP)

Program ini merupakan implementasi ‘Alumni Engagement Strategy’ oleh Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) dan Australia Awards in Indonesia (AAI). Kegiatan dilaksanakan oleh Konsorsium universitas di Australia dan Indonesia yang dipimpin oleh Griffith University. Tujuannya untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah dan mengembangkan networking antara alumni. Peserta yang mengikuti kegiatan dibagi menjadi dua, yakni mentor dan mentee. Kegiatan dilaksanakan dari Mei 2017-Januari 2018.

Motivasi saya mengikuti program ini sederhana saja, “to give back to my profession while building expertise”. Maknanya, saya ingin meningkatkan skill, mengupdate skill, dan membagi skill yang saya miliki dalam hal publikasi penelitian. Selain itu, saya ingin bertemu teman-teman alumni Australia atau alumni universitas negara lain di kegiatan-kegiatan Professional Development seperti ini.

Sebagai salah satu mentor APDP, saya mendapatkan pengalaman berikut:

a) Mentoring sistem menggunakan platform mentoring yang diorganize oleh Griffith University. Platform ini membantu saya berinteraksi dengan organizer, mentee, dan mentor lain. Interaksi dengan mentee dapat dicatat dan dievaluasi oleh organizer di Australia. Secara umum ada beberapa milestones yang perlu dilakukan: develop the rapport, goal setting, mentoring agreement discussion, mid-point assessment feedback exercise dan share your mentoring journey.

b) Update ilmu mengenai pola riset, kinerja riset, pembentukan policy melalui riset, komersialisasi riset. Output riset menjadi tidak terbatas lagi, meski selama ini hanya berupa publikasi ilmiah dalam prosiding dan jurnal. Riset yang berguna bisa dimanfaatkan dalam bentuk product dan public policy (kebijakan publik).

c) Proses mentoring yang challenging. Untuk bisa sukses menjadi mentor, maka harus punya banyak skill. Kita bukan dosen pembimbing yang pasif menanti mahasiswa bimbingan, tetapi kita adalah kolega sang mentee. Mentee bisa dianggap menjadi our young colleague di tempat kerja. Di awal bekerja, saya sudah cukup open-minded dan straightforward dengan sistem mentoring yang saya lakukan. Target saya membantu mereka untuk publikasi sampai selesai (meski program ini berakhir Januari 2018).

d) Teknik mentoring dengan metode blended, sebagian online dan face-to-face workshop. Seperti pada program DIES-DAAD UNILEAD yang pernah saya ikuti, teknik ini membantu menghemat biaya dan waktu karena dilakukan dengan kombinasi workshop dan interaksi online. Saat workshop, kami diberi materi oleh beberapa Profesor dari Australia dengan metode ceramah atau teleconference. Organizer kegiatan ini, yakni Anni dan Helen dan beberapa teman dari UI, UNJ dan Unhas benar-benar luar biasa dalam menjembatani perbedaan budaya dan culture shock yang dialami semua pihak.

e) Networking dengan teman-teman alumni Australia dan alumni negara lain. Kesempatan networking membantu kami saling berbagi informasi kegiatan Professional Development dari link lain atau negara lain, bahkan undangan lanjutan dalam kegiatan-kegiatan akademik di lingkungan universitas mereka. Kesempatan mengeratkan hubungan sesama Alumni Australia selalu saya nantikan, karena target saya setiap ada acara alumni, saya harus dapatkan minimal lima no WA atau kartu nama.

Mentee saya ada tiga orang, dari USU, UIN Sunan Ampel Surabaya dan Departemen Kelautan. Ketiganya alumni Australia dan memiliki bidang-bidang keahlian berbeda. Meski demikian saya tetap optimis kami bisa memenuhi kedua tujuan di atas yakni penulisan artikel ilmiah dan networking. Kami akan ketemu lagi (insya Allah) dalam International Conference Januari 2018 di Jakarta.

Pekanbaru,

Catatan dari Workshop ‘Ayo Cepat Lulus’ Jurusan Teknik Sipil FT Universitas Riau

Sekitar 150 mahasiswa memadati ruangan di hotel MP dekat kampus Unri dalam acara workshop ‘Ayo Cepat Lulus’ yang ditaja Jurusan Teknik Sipil FT Universitas Riau. Kedua narasumber adalah psikolog Hj Aida Malikha MSi (Biru Konsultasi Psikologi Humanika), dan Dr Mirra Noor Milla (UI). Ditinjau dari judul dan sasaran kegiatan, maka dapat disimpulkan bahwa workshop ini merupakan salah satu usaha ‘human approach’ dalam mempercepat masa studi dan meningkatkan jumlah kelulusan mahasiswa Jurusan Teknik Sipil.

Ibu Hj Aida Malikha memberikan pengantar faktor-faktor yang menyebabkan masa studi lama, yakni malas, terlalu banyak berorganisasi, sibuk bekerja, terlalu banyak sosialisasi dan hambatan tugas akhir. Mahasiswa sendiri menambahkan bahwa lamanya masa studi karena mereka masih memiliki banyak nilai di bawah D, dosen killer, dan pelajaran yang susah. Solusi dari bu Aida adalah menguatkan motivasi, manajemen waktu dan membuat skala prioritas. Untuk meningkatkan motivasi, maka mahasiswa harus menghilangkan mitos-mitos seperti dari daerah belum tentu sukses, dosen killer selalu memberi nilai buruk, dan sebagainya. Mahasiswa harus ulet, ingin jadi role model, dan menyadari adanya keterbatasan waktu dan biaya untuk studi. Manajemen waktu yang baik, disiplin, tidak suka menunda, menyelesaikan apa yang sudah dimulai (teguran buat diri saya), dan rajin bimbingan tugas akhir agar selesai tepat waktu.

Soal skala prioritas, bu Mirra menambahkan bahwa prioritas dihubungkan dengan ‘goals’ atau tujuan. Fokus dengan prioritas membuat mahasiswa tidak mudah melalukan ‘upaya pengalihan’ saat menghadapi sesuatu yang penting tetapi tidak mereka sukai. Selain itu perlu belajar membuat rencana dengan konsep SMART (Specific, Measurable, Attainable, Realistic, Time Bound) sehingga semua target bisa diselesaikan dalam jangka waktu tertentu, bahkan lebih banyak dari perkiraan semula. Untuk menyelesaikan prioritas, mahasiswa harus banyak memiliki strategi maupun berusaha lebih banyak dengan memunculkan plan A, plan B, serta membuat rewarding time jika suatu tugas selesai agar tercipta ‘work-life balance’.

Catatan dari workshop ini adalah:

a) mitos-mitos tentang studi perlu dibuktikan, karena mitos belum tentu benar

b) buat skala prioritas menggunakan teknik SMART agar cepat lulus dan meminimalisir upaya pengalihan saat menunda-nunda sebuah pekerjaan penting

c) harus banyak strategi dan ikhtiar lebih panjang saat kondisi kurang kondusif

d) jadilah subyek yang mengendalikan keadaan, bukan obyek yang dikendalikan keadaan

e) Utamakan integritas dan values agama serta moral, bukan hanya usaha ilegal supaya mendapatkan nilai terbaik dan cepat lulus.

Sebagai moderator di sesi dosen dan mahasiswa, saya mewakili rekan sejawat sangat mensyukuri terlaksananya kegiatan ini agar perbaikan keadaan dapat dilakukan untuk membantu memperbaiki mindset mahasiswa dan mempercepat kelulusan di Jurusan Teknik Sipil beberapa waktu mendatang. Semoga perbaikan terus-menerus ini akan membuahkan hasil yang gemilang.

Pekanbaru, 16 November 2017

Sukses dengan Proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM)

Berkat mengikuti sosialisasi pelatihan mengenai Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) pada tahun 2016 dan 2017, maka diperoleh berbagai tips menarik agar proposal yang dibuat berhasil didanai oleh DIKTI.

Sejak kembali dari studi, saya tidak banyak membimbing program kreativitas mahasiswa karena sibuk bekerja di Kantor Urusan Internasional Universitas Riau. Padahal sebelum studi S3, para mahasiswa di kelompok Research Club yang didirikan pada tahun 2003 sempat berjaya dalam aneka lomba penelitian dan penulisan karya ilmiah di tingkat lokal maupun nasional. Sesaat sebelum studi S3 dimulai, kelompok kami mendapatkan kesempatan untuk maju ke PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) dengan judul penelitian “Pengaruh penambahan bubuk kaca dan fly ash terhadap sifat-sifat mortar”. Ketiga mahasiswa tersebut yakni Indra Kuswoyo, Munawir Sazali dan Hendra Gunawan berangkat ke Malang untuk berlaga di babak lanjutan.

Kembali ke zaman now, pada tahun 2016, satu kelompok mahasiswa bimbingan berhasil memenangkan PKMGT (Gagasan Tertulis) dengan judul “Pembangunan air shelter dalam rangka penanggulangan dampak bencana asap akibat kebakaran lahan gambut di Riau”. Disusul pada tahun 2017, dua kelompok mahasiswa yang mengikuti PKMP (Penelitian) dan PKMM (Pengabdian kepada Masyarakat) mendapat dana dari Belmawa Ristekdikti. Keberhasilan kedua kelompok ini membuat saya lega luar biasa, karena we’re on the right track. Luaran kegiatan PKMP dengan judul “BETGEL-RHA atau Beton Geopolimer Rice Husk Ash sebagai material konstruksi ramah lingkungan gambut” rencananya akan dipresentasikan di The 2nd International Conference on Science and Technology, 15-16 November 2017 di Pekanbaru. Sedangkan hasil kegiatan PKMM berupa buku kreatif dan sosialisasi pada anak-anak SD di Pekanbaru (judul proposal “Buku kreatif sebagai media edukasi pengenalan pelestarian gambut untuk anak usia sekolah”) akan diterbitkan di jurnal pengabdian masyarakat.

PKMM

Tujuan melaksanakan PKM, menurut Prof Sundani (beliau juga expert bidang Pengabdian Kepada Masyarakat Ristekdikti) adalah untuk memberikan tantangan intelektual, belajar menulis proposal ilmiah yang baik, memunculkan solusi dengan karakter kedaerahan dan memamerkan kekuatan intelektual institusi.

PKM perlu memiliki unsur unik, kreatif, bermanfaat dan taat aturan.  Tips untuk sukses menulis proposal PKM dapat disarikan sebagai berikut:

a) Permasalahan administratif diminimalkan, contohnya tidak ada jumlah halaman, jumlah halaman lebih dari 10, dan tidak ada tanda tangan pembimbing.

b) Karya dinilai memiliki kreativitas tinggi, ada kebaruan substansi, produk unik, tidak membawa tema-tema generik, menjawab permasalahan yang sedang populer di masyarakat, dan memiliki unsur kedaerahan.

c) Proposal tepat sasaran, misalnya PKMM untuk masyarakat non-produktif dan PKMT untuk masyarakat produktif. Keduanya membutuhkan surat persetujuan mitra. Tanpa surat tersebut maka proposal mendapat nilai rendah.

d) Rencana Anggaran Biaya (RAB) diestimasi sesuai dengan metode lalu kewajarannya dinilai. RAB tidak untuk honorarium, fotokopi atau membeli peralatan elektronik seperti laptop dan kamera.

e) Proposal dapat menjelaskan secara nalar, memiliki produk intelektual, dan dapat memperbaiki kualitas hidup masyarakat secara langsung/tidak langsung.

f) Kreativitas sesuai dengan anggaran, tidak perlu yang terlalu canggih, dan dapat dipertanggung jawabkan hasilnya.

Menulis proposal PKM cukup tricky, karena penulisnya belum pernah ikut kuliah Metodologi Penelitian atau training sejenisnya, tetapi dorongan dan bimbingan dari pembimbing sangat diperlukan.

Pekanbaru,

Tips menjadi Moderator Keynote Speaker (Pengalaman di GCEE, International Conference, UNM, Malang)

Berdasarkan hitung-hitungan saya sebelumnya, yang hobi ikutan konferensi dan jalan-jalan, pada tahun 2017 ini saya harus mengerem kesukaan hadir di konferensi karena harus fokus menulis di jurnal ilmiah. Sayangnya, event kumpul akademisi sama geng KORIGI tidak boleh dilewatkan meski sekali setahun kali. Sometimes, dengan mereka saya bisa jadi diri sendiri, saintis sejati, geopolymer researcher sungguhan. Haha.

Salah satu pengalaman mengikuti konferensi internasional tidak selalu menjadi peserta, bisa jadi panitia, reviewer dan moderator untuk sesi paralel atau sesi moderator.

Pada konferensi kali ini, GCEE, saya diundang menjadi moderator untuk key note speaker. Sungguh sebuah kehormatan dari teman-teman di Jurusan Teknik Sipil UNM. Pembicara yang diundang berasal dari Kumamoto University, ITB dan SEAMEO Voctech Brunei Darussalam. Monita sebagai keynote dari Universitas Riau dan KORIGI, akan berusaha dengan baik memandu acara paling pertama dalam sesi konferensi.

Sebelum berangkat ke Malang, saya diberi tips dan trik oleh Prof Brian dari University of Canberra, Australia, saat di Jakarta. Untuk menjadi seorang moderator key note speaker yang profesional saya harus melakukan beberapa cara seperti berikut:

  1. Mempersiapkan diri: mencari topik tiap key note, mempelajari CV online speaker, memahami tujuan konferensi, bahkan kalau perlu meminta bahan dari keynote kepada panitia untuk dipelajari di awal.
  2. Mempersiapkan script moderasi singkat (max. 2 halaman) untuk memandu sesi agar lebih selalu on the right track.
  3. Meminta semua keynote speaker untuk duduk bersama di meja sebelum memulai sesi dan memberikan briefing singkat mengenai apa yang moderator lakukan dalam sesi, serta batasan waktu pidato (biasanya 20-30 menit).
  4. Memulai sesi dengan sambutan singkat sambil mengingatkan tujuan konferensi di awal, lalu menerangkan pembagian sesi, yakni memperkenalkan speaker, sesi pidato keynote speaker, dan sesi Q&A.
  5. Membacakan CV speaker dengan singkat dan highlight mengenai pidatonya sambil memberi summary tentang apa yang dibicarakan dari sudut pandang moderator.
  6. Untuk sesi pidato, moderator diberikan waktu sesuai alokasi. Kita harus profesional dan keep the time. Jika perlu, kita interupsi pembicara sesekali untuk mengingatkan waktu dengan sopan dan penuh penyesalan. Pada konferensi ini saya berusaha sangat tepat waktu agar peserta dan panitia nyaman, sehingga sering menginterupsi pembicara dan mengingatkan pembicara berikutnya untuk tepat waktu.
  7. Pada sesi tanya-jawab, ada baiknya kita sudah planted (cari) penanya back-up dari grup kita untuk bertanya kepada salah satu keynote speaker. Hal ini sering dilakukan oleh moderator profesional agar suasana lebih hidup, dan memberikan kesempatan bagi tiap keynote speaker untuk memberikan pandangannya lebih dalam lagi melalui sesi pertanyaan.
  8. Akhiri sesi dengan membacakan summary dari pidato keynote yang telah kita baca sebelumnya atau didengarkan saat sesi. Saya belajar membuat pernyataan dari materi keynote sehari sebelumnya ketimbang memberikan summary random dan tidak relevan di akhir sesi, karena saya perlu mengontrol waktu dan suasana sesi ketimbang memikirkan take home message selama sesi berlangsung.
  9. Akhiri sesi dengan memberi apresiasi kepada universitas, panitia, peserta dan semua yang terlibat secara aktif dalam sesi key note yang menarik tersebut.
  10. Persilakan keynote speaker untuk berfoto bersama dengan pihak universitas, pejabat dan pihak lain yang sudah menunggu kesempatan.
  11. Be an enthusiastic moderator. It depends on you. You’re the ruler. Give a good impression and take home message to everyone from your moderation session.

Pengalaman dalam sesi keynote GCEE 2017 ini benar-benar pondasi supaya bisa moderator profesional dalam berbagai konferensi internasional mendatang. Di akhir acara, beberapa invited speaker memberi apresiasi karena saya berhasil menjalankan sesi dengan luwes, dan menjaga waktu moderasi sesuai jadwal. Ketepatan waktu ini juga sangat dihargai oleh seorang invited speaker dari UK. Saya sendiri sangat bersyukur karena bisa mengembangkan style sendiri tanpa perlu basa-basi agar semua berjalan dengan baik dan berkesan di hati peserta.

Final Year Project Batch S1 (Bagian 04)

Beberapa orang mengikuti saya di belakang saat kembali ke kantor. Saya tidak mengenal mereka dengan baik tetapi saya yakin mereka ada keperluan tertentu untuk menemui saya.

Ternyata ada lima orang mahasiswa yang ingin melakukan penelitian di lab sebagai tugas akhir mereka. Meski tengah sibuk dengan Batch 02, saya beranikan diri membantu lima mahasiswa yang kelihatannya serius ingin bekerja sama. Batch 03, gabungan lima orang yang sok dewasa, kocak, ngawur dan selalu ceria di manapun berada, menambah warna mahasiswa bimbingan TA. Saya mesti putar otak kadang-kadang mendisiplikan mereka. Melihat hasil kerja yang serius dan semangat yang luar biasa, saya ikutan semangat juga. Memang benar, kita ditentukan oleh teman-teman di sekeliling kita. Selama bersama Batch 03, saya selalu merasa ceria meski kadang marah-marah karena merasa kurang pantas diperlakukan demikian. Hasil penelitian yang luar biasa itu bikin tak bisa marah lebih lama. Hingga hari ini persahabatan kami selalu baik dan Batch 03 tetap ada kapanpun ibu membutuhkan mereka. So sweet.

Semua anggota Batch 03 mendapat kesempatan untuk mempublikasikan hasil penelitian mereka di Seminar Nasional di Padang (Unand) dan Pekanbaru (UIR). Satu orang mahasiswa (Ismi) mendapatkan penghargaan sebagai ‘Best Presenter’ untuk tingkat mahasiswa.

Publikasi Batch 03:

  1. Prasetyo, A., Sitompul, I.R., Djauhari, Z., Ismeddiyanto., & Olivia, M. 2016. Kuat tarik belah dan kuat lentur beton OPC dan PCC menggunakan air gambut sebagai air pencampur. Prosiding the 3rd Andalas Civil Engineering (ACE), National Conference. Padang: Universitas Andalas.
  2. Afrian, M., Djauhari, Z., & Olivia, M. 2016. Ketahanan mortar abu sekam padi pada suhu tinggi. Prosiding the 3rd Andalas Civil Engineering (ACE), National Conference. Padang: Universitas Andalas.
  3. Sianturi, R., Darmayanti, L., Saputra, E., & Olivia, M. 2016. Kuat tekan dan porositas beton OPC dan PCC menggunakan air gambut sebagai air pencampur beton. Prosiding the 3rd Andalas Civil Engineering (ACE), National Conference. Padang: Universitas Andalas.
  4. Rahmayani, I.S., Saputra, E., & Olivia, M. 2017. Kuat tekan dan porositas mortar menggunakan bahan tambah bubuk kulit kerang di air gambut. Prosiding Konferensi Nasional Teknik Sipil dan Perencanaan (KN-TSP) 2017. Pekanbaru: Universitas Islam Riau.
  5. Ednor, M., Sitompul, I.R., & Olivia, M. 2017. Kuat tekan dan perubahan berat mortar menggunakan bahan tambah abu sekam padi (Rice Husk Ash) di air gambut.Prosiding Konferensi Nasional Teknik Sipil dan Perencanaan (KN-TSP) 2017. Pekanbaru: Universitas Islam Riau.

Final Year Project Batch S1 (Bagian 01)

Kode rombongan Batch 00 sudah mulai digunakan pada tahun 2012, saat saya kembali membimbing grup penelitian tugas akhir mahasiswa setelah selesai studi S3. Pada suatu siang di lab, seorang mahasiswa datang menghadap untuk berdiskusi judul tugas akhir. Saya menerimanya, karena ia yang datang meminta saya menjadi pembimbing. Pertimbangannya adalah komitmen mau bekerja di bawah bimbingan saya sehingga ia tentu tidak merasa terpaksa kalau harus bekerja sesuai dengan standar saya. Bisa dibayangkan betapa tingginya hati seorang dosen pembimbing TA itu ya, hehe. Setelah itu beberapa mahasiswa datang lagi ingin dibimbing dan bersedia digojlok dengan puluhan paper berbahasa Inggris.

Rombongan pertama ini paling banyak mengalami suka-duka selama ngelab karena berbagai alasan personal, profesional, teknis dan praktis. Saya juga harus mulai dari nol seperti harus menyemangati, menyiapkan paper dan standar, melatih presentasi, membuatkan langkah-langkah TA dengan saya, dsbnya, termasuk demo membuat geopolimer di lab. Kadang-kadang saya lihat mereka duduk di bawah pohon ketapang sambil mengayak abu sawit untuk bahan penelitian tanpa kenal lelah. Berkat kesigapan dan ketekunan kelompok pertama ini, beberapa orang yang masuk dalam rombongan berikutnya terbantu karena pengetahuan dan tips mereka bekerja di lab.

Mahasiswa di Batch 01 sangat luar biasa dari segi semangat dan kekompakan. Mereka sangat ambisius dan banyak membaca. Hasilnya bisa dilihat dari 2 publikasi di prosiding terindeks Scopus dan mendapatkan best paper award (silver medal) dalam MIGS 2 (Malaysia Indonesia Geopolymer Symposium) 2015 di Surabaya. Topik yang diangkat Batch 01 merupakan topik-topik baru dan belum banyak diteliti sebelumnya. Ada beberapa mahasiswa yang menulis tugas akhir dengan rapi, lengkap dan berbobot tinggi , sehingga mereka seharusnya mendapat gelar S2 ketimbang S1.

Tahun 2014, saya dikejutkan 8 orang mahasiswa yang mau bergabung dalam Batch 02. Meski ramai, mereka selalu rajin bekerja dengan topik masing-masing. Saya sendiri kewalahan pada awalnya, tetapi terbantu karena antusiasme dan kekompakan mereka bekerja di lab. Beberapa mahasiswa mendapatkan hasil penelitian yang baru dan original. Meski demikian, kesulitan membina grup besar adalah waktu bimbingan yang sulit dipenuhi karena kesibukan lain. Saya harus membagi kelompok menjadi beberapa grup kecil dengan topik sama supaya lebih fokus saat bimbingan penulisan laporan tugas akhir. Topik yang dicover seperti beton menggunakan campuran kerang, beton di gambut dan geopolimer dirawat di suhu ruang.

Bersambung ke Part 02, ya.